::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Lakpesdam NU Banten: Respon Dinamika Nasional, Komitmen Kebangsaan Harus Diutamakan

Kamis, 16 Mei 2019 07:00 Daerah

Bagikan

Lakpesdam NU Banten: Respon Dinamika Nasional, Komitmen Kebangsaan Harus Diutamakan
Kader PMII UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten
Serang, NU Online
Permasalahan Politik identitas masih menjadi persoalan yang harus menjadi perhatian oleh berbagai kalangan. Maraknya penggiringan opini negatif pascapemilu 2019 menunjukan komitmen kebangsaan tidak lagi menjadi perihal penting.

Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Provinsi Banten, Ali Muhtarom, mengatakan, munculnya narasi negatif terkait nilai sebuah bangsa menjadi kekhawatiran yang perlu direspon.

Menurutnya, gerakan kelompok islam yang mengarah kepada kepentingan politik telah menciderai komitmen kebangsaan yang sudah dibangun oleh para pendiri bangsa puluhan tahun yang lalu.

Untuk itu, setiap kelompok masyarakat diminta untuk lebih dewasa dalam bersikap dengan megutamakan nilai-nilai kebangsaan yang luntur akibat opini buruk belakangan ini. Ideologi islam yang muncul pada agenda agenda pemilu, kata Ali, mengakibatkan hilangnya ideologi murni yang dimiliki Islam.  

"Komitmen kebangsaan kita saat ini menjadi mengkhawatirkan akibat narasi narasi yang tidak wajar," kata Ali saat menjadi pembicara Taushiyah Kebangsaan oleh Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten di Gedung PWNU Banten, di Jl Kemang Kota Serang, Rabu (15/5).

Ia mengungkapkan, rencana gerakan people power yang digaungkan oleh kelompok tertentu menunjukan komitmen kebangsaan tersebut secara perlahan hilang. Sebab, hal itu sangat syarat dengan kepentingan politik elit bukan politik yang mengutamakan kesejahteraan rakyat ke depan.

"Era reformasi seperti saat ini harusnya mendewasakan kita dalam berpolitik," ujarnya.

Ia mengingatkan, bahwa ada agenda tersembunyi yang dimiliki kelompok garis keras yang masuk pada tatanan masyarakat terutama kelompok islam tertentu. Hal itu dapat dibuktikan dari opini-opini yang seolah ingin menghidupkan kembali wacana Khilafah Islamiyah di Indonesia. (Abdul Rahman Ahdori/Muiz)