::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Saatnya Dai Moderat Tunjukkan Keberanian di Era Medsos

Kamis, 16 Mei 2019 08:30 Nasional

Bagikan

Saatnya Dai Moderat Tunjukkan Keberanian di Era Medsos
KH Marsudi Syuhud dan Para Peserta Tadribud Duat wal Aimmat PBNU
Jakarta, NU Online
Saat memberikan pembekalan kepada para peserta Tadribud Duat wal Aimmat utusan PBNU di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud mengajak peserta yang terdiri dari para dai dan imam untuk mengimbangi para ustadz jadi-jadian di medsos yang saat ini marak muncul.

Para ustadz jadi-jadian di media sosial yang tidak memiliki latarbelakang keilmuan agama memadai ini, membuat masyarakat menjadi bingung dalam menentukan pilihan belajar agama. Bahkan tidak sedikit yang terpengaruh oleh mereka yang hanya bermodalkan keras, penuh caci maki dan suka menyebar hoaks atas nama agama.

"Setelah pulang harus langsung terjun ke masyarakat. Ilmu kalian sudah lebih dari cukup. Ngaji bisa, berceramah bisa, tinggal yang kurang keberanian," tegas mantan Sekjen PBNU ini, Rabu (15/5).

Dari sisi keilmuan agama, para peserta yang ikut program ini tidak bisa diragukan lagi. Pasalnya mereka memiliki latar belakang pendidikan agama, khususnya di pesantren sejak kecil.

"Kalian sudah mondok dari kecil. Alfiyah hafal semuanya. Sudah melalui proses yang panjang. Tapi mereka (ustadz dadakan) memang punya keberanian. Meskipun lalaran tasrif saja tidak bisa, tetapi mereka berani untuk tampil di sosial media. Saya minta setelah pulang ke tanah air harus langsung bisa memberikan penjelasan keagamaan yang konkrit yang dibutuhkan masyarakat dengan meng-counter pemahaman keagamaan yang dilemparkan oleh ustadz-ustadz yang tidak memiliki ilmu agama tapi berani berceramah," ajaknya kepada peserta.

Proses pembiasaan membangun keberanian bagi para dai wasathiyah ini lanjutnya bisa dimulai sejak berada di Mesir. Di antara caranya adalah menentukan isu dan tema yang akan diangkat serta menjelaskan hal-hal yang dianggap tidak memiliki landasan keilmuan serta landasan pemahaman keagamaan yang memadai.

"Mulai dari sekarang segera tentukan positioning. Tugasnya adalah menjelaskan bagaimana kedudukan masalah itu sebenarnya menurut hukum Islam dan aqidah Islam ala Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah sehingga orang tidak mudah terbawa oleh berita hoaks, oleh ceramah-ceramah yang tidak mencerminkan akhlak Rasulullah SAW yaitu ceramah-ceramah yang penuh dengan caci maki dan ceramah-ceramah yang penuh dengan fitnah, provokasi dan adu domba," tegasnya.

Sementara Ketua Rombongan peserta tersebut KH Muhammad Nur Hayid menegaskan kesiapan pihaknya untuk menyiapkan diri untuk segera bisa menjalankan tugas dari PBNU, bisa berinteraksi langsung dengan umat dan masyarakat dalam mengawal dakwah Rahmatan lil Alamin.

Kesiapan itu lanjut Gus Hayid akan diwujudkan dalam bentuk tindak lanjut atau follow up dari latihan yang akan dilakukan dalam berbagai model setelah pulang ke tanah air. Salah satunya adalah penguatan masing-masing peserta untuk berperan serta di masyarakat secara langsung.

"Insyaallah kami akan segera tindaklanjuti. Setelah pulang ke tanah air kami segera melakukan konsolidasi dengan pesantren-pesantren, masjid-masjid yang selama ini kami bina. Selain itu kami akan menggelar berbagai macam training, pelatihan sesuai materi yang didapat di kampus Al Azhar," tekadnya.

Pertemuan Kiai Marsudi ini ditutup dengan buka puasa bersama. Hadir pada pertemuan di Saha Indonesia ini Pengurus PCINU Mesir dan beberapa mahasiswa Indonesia di Al-Azhar. (Muhammad Faizin)