::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Said: Keadilan dapat Terwujud Jika Pemimpin Berpegang pada Al-Qur'an

Kamis, 16 Mei 2019 07:30 Nasional

Bagikan

Kiai Said: Keadilan dapat Terwujud Jika Pemimpin Berpegang pada Al-Qur'an
KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa keadilan di dunia dapat terwujud jika seorang hakim atau pemimpin berpegang teguh pada Al-Qur'an.

"Ini harus yakin ini. Hakim, kepala pengadilan bisa adil kalau cara berpikir, bersumber, jiwanya bernafskan pada Al-Qur'an," kata Kiai Said saat mengisi pengajian Kitab Kasidah Burdah di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan, Rabu (15/5).

Sebaliknya, menurut Kiai Said, jika hakim atau pemimpin tidak mengenal Al-Qur'an, maka dalam memutuskan suatu perkara berpotensi dzalim atau menyimpang.

"Maka satu-satunya sumber keadilan adalah Al-Qur'an," jelasnya.

Namun demikian, sambung Kiai Said, dengan pemimpin atau hakim berpegang teguh pada Al-Qur'an bukan berarti negaranya harus menjadi negara Islam. "Yang penting Al-Qur'an diamalkan. Negara itu tetap negara kebangsaan, Pancasila, tapi Al-Qur'an harus diamalkan," ucapnya.

Kiai alumnus Universitas Ummul Qura Makkah, Arab Saudi itu lebih memilih substansi atau nilai-nilai dalam Islam seperti jujur, saling menolong, bersama-sama mengentaskan kemiskinan dan membangun pendidikan, serta menjalani kehidupan dengan rukun.

"Itu sudah islam itu. Jadi kamu (kalau) jadi hakim harus adil walau pun (Indonesia) bukan negara Islam, tapi kamu jadi hakim, berarti kamu sudah menjalankan Al-Qur'an," ucapnya.

Pada kesempatan itu, Kiai Said juga mengemukakan bahwa nama itu ada empat macam: nama dan kelakuannya sama-sama baik, namanya baik tetapi kelakuannya jelek, namanya jelek tetapi kelakuannya jelek, dan namanya jelek tetapi kelakuannya baik.

"Syukur-syukur namanya Muhammad bin Abdullah kelakuannya bagus, itu syukur-syukur. Namanya Aisyah, Khodijah, alimah, Hafidah, Muthi'ah akhlaknya baik, yaitu nama dan hakikatnya sama, daripada namanya bagus, tapi hakikatnya jelek," ucapnya. (Husni Sahal/Muhammad Faizin)