::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

MUTIARA HATI

Jangan Nilai Keshalehan Seseorang dari Puasa dan Shalatnya Saja

Kamis, 16 Mei 2019 16:45 Nasional

Bagikan

Jangan Nilai Keshalehan Seseorang dari Puasa dan Shalatnya Saja
M. Quraish Shihab (istimewa)
Jakarta, NU Online
Seluruh amaliyah ibadah yang dilakukan oleh umat Islam mempunyai implikasi sosial. Artinya, ibadah harus berdampak pada akhlak dan perilaku yang baik di tengah masyarakat dalam kehidupan sehari, baik ibadah puasa, shalat, dan lain-lain.

Namun, menurut Pakar Tafsir Indonesia, Prof Muhammad Quraish Shihab bahwa hendaknya tidak menilai keshalehan seseorang hanya dari puasa dan shalatnya saja secara fisik atau lahiriah.

“Jangan menilai keshalehan seseorang melalui puasa atau shalatnya saja. Ketahuilah, puasa dijadikan Allah karena untuk berlomba meraih kebijakan. Berlomba untuk melawan diri sendiri,” ujar Quraish Shihab dikuti NU Online, Kamis (16/5) dalam program Mutiara Hati yang rutin tayang di stasiun televisi SCTV selama bulan Ramadhan.

Penulis Kitab Tafsir Al-Misbah ini menegaskan, bersegeralah berbuka begitu matahari terbenam. Hal itu merupakan pesan Nabi Muhammad. Tapi, imbuhnya, jangan sampai duduk di depan hidangan, hingga maghrib sudah akan berlalu.

Puasa, tegasnya, adalah kewajiban. Tidak ada satu pun ibadah yang lebih mampu mengantarkan tekad dan kelapangan dada, seperti halnya puasa.

“Tidak ada yang mengantar pelakunya meraih kemenangan melawan dirinya sendiri sebagaimana puasa,” tutur pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) ini.

Itu sebabnya saat berbuka, tandasnya, yang berpuasa bergembira bukan karena hidangan telah tersedia, tapi karena meraih kemenangan melawan nafsunya. (Fathoni)