::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

MUTIARA HATI

Tuntunan Agama Menyangkut Makanan

Kamis, 16 Mei 2019 17:45 Nasional

Bagikan

Tuntunan Agama Menyangkut Makanan
Ilustrasi (ist)
Jakarta, NU Online
Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia. Namun demikian, ada tuntunan agama menyangkut makanan seperti yang dijelaskan oleh Ulama Tafsir Indonesia, Muhammad Quraish Shihab.

Menurut Prof Quraish, ada kecenderungan umum yang biasa dilakukan umat Islam di seluruh dunia dengan memberi perhatian yang cukup besar menyangkut makanan dan persiapannya.

Ia mengutip seorang cendekiawan Muslim asal Mesir, Abbas Mahmud al-Aqqad yang mengatakan,"Makanan kelihatannya menjadi sogokan bagi jiwa manusia agar mau berpuasa. Karena dengan berpuasa, sebagian besar kita mengidam-idamkan makanan-makanan yang enak saat berbuka."

Padahal, katanya, tuntunan agama tidak demikian. Ada banyak ayat Al-Qur’an yang memberi tuntunan. Misalnya,”Makanlah apa yang terhidang di bumi, tetapi yang halal dan proporsional. Jangan berlebih dan jangan juga berkurang”.

“Ayat selanjutnya mengatakan,’Makan dan minumlah, tetapi jangan boros’,” ucapnya dikutip NU Online, Kamis (16/5) dalam program Mutiara Hati yang rutin tayang di stasiun televisi SCTV selama Ramadhan.

Menurut penulis Kitab Tafsir Al-Misbah ini, pemborosan ada dua macam. Pertama, memberi dalam konteks makan melebihi kebutuhan. Karena dalam kebaikan pun orang tidak boleh memberi berlebih, ada ukurannya.

Makna kedua dari pemborosan adalah menyiapkan makanan yang tidak diperlukan. Memberi sesuatu kepada mereka yang sebenarnya tidak membutuhkan.

Ia menjelaskan bahwa tuntunan agama lainnya menyangkut makanan adalah,"Makanlah yang lezat. Tapi tidak perlu makan yang tidak kita sukai. Jangan hanya karena terhidang di meja, kita memakannya. Perhatikanlah, jangan sampai yang di makan tidak bermanfaat dan memberi dampak jasmani dan rohani." (Fathoni)