::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

PBNU Ajak Saat Ramadhan Tunjukkan Indonesia sebagai Bangsa Bermartabat

Jumat, 17 Mei 2019 01:00 Nasional

Bagikan

PBNU Ajak Saat Ramadhan Tunjukkan Indonesia sebagai Bangsa Bermartabat
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj kembali mengimbau warga bangsa Indonesia, terutama umat Islam dan warga NU agar dalam bulan puasa ini menjernihkan hati dari hal-hal yang negatif, seperti hasud, fitnah, ujaran kebencian, dan sombong.

“Itu harus kita bersihkan dari hati kita di bulan suci Ramadhan ini,” kata Kiai Said di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (16/5).

Menurut Kiai Said, kalau orang yang berpuasa, tapi tidak menghentikan hal-hal negatif tersebut, maka puasa yang dijalaninya hanya mendapatkan lapar dan dahaga.

Selanjutnya, Kiai Said juga mengajak agar menerima hasil rekapitulasi yang diumumkan KPU pada 22 Mei baik hasil Pilpres maupun Pileg.

“Mari sebagai bangsa yang bermartabat, beradab, berbudaya, beragama, bertaqwa, kita terima apa hasil dari KPU dengan dewasa, dengan lapang dada, dengan besar hati,” ucapnya.

Menurut Kiai Said, dalam sebuah sistem demokrasi, menang dan kalah merupakan hal yang biasa. Untuk itu, ia meminta kepada semua pihak agar mempercayakan secara penuh kepada penyelenggara pemilu, yakni KPU, Bawaslu, dan DKPP.

“Kalau ada hal-hal yang tidak puas, kita ada jalur hukum, yaitu MK, Mahkamah Konstitusi,” ucapnya.

Sementara dalam soal keamanan agar menyerahkan kepada aparat TNI dan kepolisian. Sehingga tidak perlu ada pihak-pihak yang main hakim dan memvonis sendiri. Perbuatan main dan memvonis hakim sendiri, sambungnya, bukan tanda orang yang tidak berbudaya, beradab, dan beriman.

 “Tandanya orang beriman, bertaqwa, beragama, beradab, berbudaya (itu) harus menjaga ketentraman, kedamaian, persaudaraan, itu tanda-tanda orang beriman dan bertaqwa. Kalau orang itu berbuat yang menyebabkan perpecahan, jelas Itu hal yang tidak diridai oleh Islam, oleh Al-Quran,” pungkasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)