::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kopri PB PMII Bahas Spirit Perempuan dalam Pendidikan untuk Jaga Perdamaian

Sabtu, 18 Mei 2019 02:15 Nasional

Bagikan

Kopri PB PMII Bahas Spirit Perempuan dalam Pendidikan untuk Jaga Perdamaian
Jakarta, NU Online
Kopri PB PMII membahas spirit perempuan dalam pendidikan untuk menjaga perdamaian di Hotel New Idola Jakarta Timur, Jumat (17/5). Kegiatan berlangsung dalam bentuk talkshow.

Acara ini menghadirkan dua pembicara, yakni dari Perempuan Bangsa Luluk Nurhamidah dan Tenaga Ahli KPU Muhtar Said. Sementara peserta yang hadir dari mahasiswa-mahasiswa sejumlah kampus Jakarta, seperti Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta, Universitas Paramadina, Universitas Indonesia, dan Universitas Nasional.

Sekretaris Kopri PB PMII Nurma Ningsih mengemukakan tentang kondisi menjelang dan pascapemilu, yakni terjadinya pergeseran pola pikir masyarakat, khususnya perempuan. Apalagi, perempuan dikenal sebagai istilah tiangnya negara.

“Kami merasa perlu adanya pendidikan untuk membangkitkan semangat dan spirit perempuan agar tidak terjadi perselisihan. Ketika masyarakat khususnya perempuan ada perselisihan dengan yang lain, maka akan membuat pemicu hancurnya negara Indonesia,” kata Ningsih.

Tenaga Ahli KPU Muhtar Said menyebut tentang posisi perempuan merasa termarjinalkan. Menurut Said, PMII perlu membuat rumusan nawacita untuk mengatasi persoalan pemarginalan yang menimpa perempuan.

Hal lain yang dikemukakan Muhtar, ialah tentang perlunya pemuda menciptakan gerakan perdamaian, sehingga ke depan tidak perlu turun ke jalan atau mengadakan aksi yang merugikan.

Sementara Perempuan Bangsa Luluk Nurhamidah menyatakan bahwa kondisi politik saat ini sangat tidak mudah kita benahi, seperti pemilu yang baru dilaksanakan. Berbagai provokasi dan penyebaran berita hoaks di media sosial sangat massif.

“Picuan (provokasi) itu bisa diciptakan dari situasi yang berakibat adu mulut, yang tadinya urusan ringan menjadi urusan suku, ras, agama,” ucap Luluk.

Menurutnya, perempuan yang mempunyai perilaku toleran sangat bisa menjaga perdamaian dengan melibatkan masyarakat untuk meredam berbagai aksi politik jalanan. 

“Perempuan punya kemampuan yaitu komunikasi lobi dan mediasi yang mengedepankan prinsip perdamaian,” ucapnya.

Acara ini diakhiri dengan deklarasi damai yang diikuti pemuda dengan berbagai kalangan dan latar belakang yang tergabung di organisasi PMII. Deklarasi itu berisi tiga poin.

Pertama, kami generasi muda Indonesia mengajak masyarakat untuk tetap tenang, sabar, dan tidak terprovokasi di tengah kondisi politik saat ini.
Kedua, kami generasi muda Indonesia menyerahkan dan percaya sepenuhnya penyelenggaraan Pemilu 2019 kepada KPU. 

Ketiga, kami generasi muda Indonesia sepakat untuk menciptakan situasi yang kondusif demi terwujudnya Indonesia yang, damai, sopan, bermartabat, dan demokratis. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)