::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pidato Pertama Sayyidina Umar bin Khattab setelah Jadi Khalifah

Ahad, 19 Mei 2019 21:00 Hikmah

Bagikan

Pidato Pertama Sayyidina Umar bin Khattab setelah Jadi Khalifah
Beberapa saat sebelum wafat, Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq menunjuk Sayyidina Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua. Keputusan itu dikeluarkan setelah Sayyidina Abu Bakar berdiskusi dengan beberapa sahabat senior seperti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan lainnya. Semula ada saja suara tidak sepakat mengingat Sayyidina Umar orangnya begitu keras. Namun akhirnya, semuanya setuju dengan kebijakan Sayyidina Abu Bakar tersebut.

Keesokan harinya, Sayyidina Umar bin Khattab menemui orang-orang yang ada di Masjid Nabawi. Mereka menyambutnya dan siap untuk membaiat sang khalifah kedua. Singkat cerita, setelah dibaiat Sayyidina Umar menaiki tangga mimbar dan menyampaikan pidato pertamanya. Sebuah pidato yang sangat menyentuh, penuh rasa haru, dan rendah hati. Umat Islam yang hadir kala itu memuji pidato Sayyidina Umar bin Khattab. Mereka baru ‘ngeh’ kalau firasat Sayyidina Abu Bakar tepat –yakni menunjuk Sayyidina Umar sebagai khalifah kedua- setelah mendengarkan pidato Sayyidina Umar.

Dikutip dari buku Umar bin Khattab (Muhammad Husain Haekal, 2013), Sayyidina Umar mengawali pidatonya dengan mengucapkan hamdalah, shalawat, dan memaparkan beberapa jasa Sayyidina Abu Bakar. Setelah itu, dia baru menyampaikan pidato intinya. Berikut pidato lengkapnya:

“Saudara-saudara! Saya hanya salah seorang dari kalian. Kalau tidak karena segan menolak tawaran Khalifah Rasulullah (Sayyidina Abu Bakar) saya pun akan enggan memikul tanggung jawab ini. Allahumma ya Allah, saya ini sungguh keras, kasar, maka lunakkanlah hatiku. Allahumma ya Allah saya sangat lemah, maka berikanlah kekuatan. Allahumma ya Allah saya ini kikir, jadikanlah saya orang dermawan bermurah hati.” Tiba-tiba Sayyidina Umar berhenti sejenak. Setelah orang-orang lebih tenang, dia melanjutkan pidatonya.

“Allah telah menguji kalian dengan saya dan menguji saya dengan kalian. Sepeninggal sahabat-sahabatku, sekarang saya yang berada di tengah-tengah kalian. Tidak ada persoalan kalian yang harus saya hadapi lalu diwakilkan kepada orang lain selain saya, dan tak ada yang tak hadir di sini lalu meninggalkan perbuatan terpuji dan amanat. Kalau mereka berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan kejahatan terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka.”

Setelah menyampaikan pidato pertamanya sebagai khalifah kedua, Sayyidina Umar turun dari mimbar dan langsung mengimami Shalat Dzuhur. 

Ada beberapa poin penting yang bisa disimpulkan dari pidato pertama Ssayyidina Umar bin Khattab tersebut. Pertama, jabatan adalah sebuah tanggung jawab yang tidak perlu diperebutkan. Apalagi sampai meneteskan darah manusia. Kedua, Sayyidina Umar mengakui kalau dirinya keras, kasar, lemah, dan penuh dengan kekurangan. Oleh karena itu, dia berdoa kepada Allah untuk selalu membimbingnya menjalankan amanah tersebut. 

Ketiga, menjadi pemimpin dan yang dipimpin adalah ujian. Sayyidina Umar sadar bahwa menjadi pemimpin itu adalah ujian. Begitupun mereka yang dipimpin. Oleh sebab itu, baik pemimpin atau yang dipimpin harus saling mengingatkan agar apa yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah. Keempat, tugas pemimpin adalah menyelesaikan persoalan rakyatnya. Kelima, siapa yang berbuat baik maka akan mendapatkan balasan yang baik. Begitupun sebaliknya. Sesuai dengan firman Allah dalam QS az-Zalzalah. (A Muchlishon Rochmat)