::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kenalkan Metode Kekinian, Mahasiswa STIT-UW Gelar Diklat

Ahad, 19 Mei 2019 22:00 Daerah

Bagikan

Kenalkan Metode Kekinian, Mahasiswa STIT-UW Gelar Diklat

Jombang, NU Online
Peserta KKN (Kuliah Kerja Nyata) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Urwatul Wutsqo (STIT-UW) Jombang, Jawa Timur mengadakan diklat (pendidikan dan latihan) Qur’any se-Kecamatan Perak untuk guru Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ),  di Desa Kalangsemanding,  Kecamatan Perak, Ahad (19/5).

Diklat yang mengusung tema 1000 Guru Qur’any untuk Generasi Bangsa tersebut adalah sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan metode-metode mengajar Al-Qur'an dengan nuansa kekinian. Sehingga akan lebih efektif dan mudah dipahami oleh para peserta didiknya (santri TPQ).

"Diharapkan mampu menjadi wadah untuk guru TPQ yang ada di Perak untuk saling bertukar pengalaman dan memberikan motivasi supaya ke depan bisa lebih modern lagi metode yang digunakan dalam mengajar," kata ketua
panitia diklat, Wildan.

Menurutnya, akhir-akhir ini generasi bangsa masih banyak yang tidak memahami Al-Qur'an dengan baik. Karenanya, hal tersebut perlu menjadi perhatian khusus, terutama dari lembaga pendidikan (TPQ) itu sendiri.

"Semoga diklat ini mampu mencetak guru untuk generasi bangsa yang akhir-akhir ini mulai mengalami degradasi akhlak," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kalangsemanding, Fakhrurrozi mengatakan, diklat tersebut melahirkan guru-guru TPQ yang berkualitas dengan metode mengajar yang mumpuni.  

"Sehingga mampu mencetak generasi bangsa yang Qur’any dan religius," terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Camat Perak, Syamsul Arifin mengungkapkan, upaya mengajarkan Al-Qur'an dengan sempurna penting dilakukan bagi anak sejak usia dini.  Seiring dengan itu, pemahaman terhadap makna al-Qur’an juga perlu dilakukan dengan tepat dan benar. Munculnya gerakan radikal, salah satu penyebabnya karena kesalahpahman mereka dalam memaknai ayat Al-Quran.

"Untuk itu mahasiswa harus jadi garda terdepan dalam melwan paham-paham radikal dengan cara mau meluangkan waktu untuk terjun dan bersosial dengan masyarakat, salah satunya dengan mau mengajar di TPQ. TPQ adalah salah satu tempat pertama bagi anak-anak untuk mengenal Tuhan, rasul dan agamannya," tuturnya.

Salah satu materi diklat tersebut adalah metode Qur’any. Metode buah pikiran KH. M. Qoyim Ya'qub ini menjadi metode yang khas diajarkan di Pondok Pesantren Al-Urwatul Wutsqo dan sejumlah unit pendidikan yang dimiliki. (Syamsul Arifin/Aryudi AR).