::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

IPPNU dan Kopri Kalbar Sepakat Cegah Kekerasan dan Gerakan Radikal

Ahad, 19 Mei 2019 22:45 Daerah

Bagikan

IPPNU dan Kopri Kalbar Sepakat Cegah Kekerasan dan Gerakan Radikal
Pontianak, NU Online
Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) dan Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kalimantan Barat siap bersinergi. Mereka sepakat mencegah aneka gerakan radikal, terorisme hingga kekerasan.

Kesepakatan dibuat usai digelar dialog sekaligus buka bersama yang dihadiri Susianah Affandy, Aulia arfiansyah Arief selaku pemateri. Kegiatan dilaksanakan di aula Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Kalimantan Barat, jalan Soedarso Pontianak.

Dialog bertemakan Peran Perempuan dalam Pencegahan Kekerasan dan Gerakan Radikal Terorisme. “Kegiatan bertujuan menangkal kekerasan terhadap perempuan atau kaum gender,” kata Diah Indri Sari, Jumat (17/5).

"Kami mengangkat teme tentang Perempuan dalam Pencegahan Kekerasan dan Gerakan Radikal Terorisme yang memiliki tujuan agar para generasi muda bisa menangkal kekerasan terhadap kaum perempuan," ungkap mewakili Kopri Kalbar.

Diah menambahkan bahwa kaum gender tidak hanya mencegah sebuah kekerasan, termasuk paham kaum radikal dan teroris yang sangat membahayakan bagi kaum gender. “Dari itu perlu sebuah upaya untuk mencegahnya,” tegasnya. Melalui dialog seperti ini diharapkan memperkuat pemahaman tentang bagaimana cara mencegah sebuah kekerasan dan bahkan gerakan radikal terorisme, lanjutnya.

Pemateri, Susianah Affandy menyampaikan bahwa kekerasan terjadi tidak selamanya dilakukan para penjahat, juga orang dekat.”Banyak faktor yang membuat kekerasan bisa terjadi, seperti kasus beberapa waktu yang lalu di Pontianak,” urainya. 
Hal itu terjadi karena adanya chattingan beruntun sehingga ketika disampaikan ke orang yang berbeda isinya pun juga akan berbeda. “Itu yg menyebabkan pertikaian,” jelasnya. 

Bagi komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ini, media zaman sekarang sangat berpengaruh. “Karena yang dulunya hanya bisa lihat di televisi, sekarang sudah bisa diakses melalui handpone. Hal itu juga mempengaruhi pola pikir anak muda zaman sekarang karena mereka lebih mudah mengakses apa saja yang mereka inginkan termasuk film dewasa,” ungkapnya.

Dialog ditutup dengan buka bersama yang dihadiri puluhan kader Kopri, IPPNU maupun kader PMII. (Rokib/Ibnu Nawawi)