::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketua NU Lampung Sebut Pemilu 2019 Paling Kuat Sedot Energi Fisik dan Mental

Senin, 20 Mei 2019 23:30 Daerah

Bagikan

Ketua NU Lampung Sebut Pemilu 2019 Paling Kuat Sedot Energi Fisik dan Mental
KH Mohammad Mukri, Ketua PWNU Lampung
Bandarlampung, NU Online
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung Prof Muhammad Mukri merasa prihatin kondisi psikologis masyarakat sebelum dan sesudah pelaksanaan Pemilihan Umum. Masyarakat terlihat sekali terbelah khususnya terkait dengan Pemilihan Presiden.

"Hari ini kita merasakan suasana kebatinan yang tajam, keras, dan terbelah. Belum pernah Pemilu di Indonesia menyedot energi baik fisik maupun mental seperti pemilu kali ini," ungkapnya saat memberikan sambutan pada Multaqo Ulama, Cendekiawan Muslim dan Tokoh Lintas Agama di Ballroom Hotel Novotel, Bandarlampung, Senin (20/5).

Seharusnya pesta demokrasi lima tahunan ini lanjutnya, dipenuhi dengan suasana riang gembira. Dan di setiap kompetisi, kontestan harus menyadari jika bakal ada yang menang dan ada yang kalah. "Memang kalah itu sakit, kalah itu kecewa," terang Rektor UIN Raden Intan Lampung ini.

Jika pun ada pihak yang merasa dirugikan atau menilai ada ketidakadilan dalam proses Pemilu, ia menghimbau pihak tersebut untuk menempuh jalur hukum yang sudah ada. Jangan sampai karena hal ini, pihak yang diputuskan kalah melakukan langkah-langkah inkonstitusional yang mempertaruhkan persatuan dan kesatuan bangsa.

"Dimana pun dan kapan pun namanya penyelenggaraan sebuah kegiatan pasti ada kekurangannya, pasti ada sesuatu yang kurang sempurna. Namun hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk lari dari komitmen awal yakni menerima hasil keputusan," katanya.

Ia menegaskan bahwa sebagai masyarakat yang taat hukum, semua elemen harus menerima keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilu. Apapun hasilnya. Tidak boleh melawan dengan pemerintah walaupun dengan motif agama.

"Semua warga negara tidak boleh melawan pemerintah. Apapun agamanya," tegasnya.

Profesor Ushul Fikih ini pun mengingatkan kembali betapa Indonesia saat ini menjadi sorotan dunia dan contoh yang nyata dalam menjaga kerukunan, kedamaian, dan ketentraman di tengah keberagaman yang ada. Beragam agama, bahasa, dan budaya tidak menjadikan Indonesia terpecah belah seperti di kawasan Timur Tengah.

"NKRI harga mati. Kedamaian ini harus kita pertahankan di NKRI. Dunia memperhatikan kita, sampai Imam Masjidil Haram dalam shalatnya mendoakan Indonesia," kata Prof Mukri, sapaan akrabnya.

Dibanding Timur Tengah, warga negara Indonesia memilik perbedaan yang mencolok. Disamping kebinekaan, warga Indonesia juga masih memiliki tokoh yang memiliki hubungan emosional kuat dengan masyarakat. Ini menjadi modal bagi Indonesia.

"Warga bangsa Timur Tengah tidak kuat ikatan emosionalnya. Walaupun satu bahasa, satu suku namun ikatan emosionalnya tidak sekuat Indonesia. Sehingga kita bisa lihat berbagai konflik yang terus melanda tidak bisa diselesaikan dengan baik, walaupun melibatkan tokohnya," ujarnya.

Oleh karena itu, sudah seharusnya, seluruh warga bangsa menjaga anugerah Allah SWT yang bernama Indonesia. (Muhammad Faizin)