::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketum IPPNU Ajak Pelajar dan Santri Jaga Persatuan Bangsa

Selasa, 21 Mei 2019 11:45 Nasional

Bagikan

Ketum IPPNU Ajak Pelajar dan Santri Jaga Persatuan Bangsa
Nurul Hidayatul Ummah, Ketua Umum PP IPPNU.
Jakarta, NU Online
Masyarakat hendaknya tetap menjaga perdamaian. Apalagi kemunculan aksi demo di sekitar gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) pada 22 Mei. Belum lagi banyaknya informasi ancaman teror.

Ketua Umum Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Nurul Hidayatul Ummah mengimbau pelajar dan santri putri se-Indonesia, agar menjaga perdamaian. “Karena saat ini marak provokasi di media sosial maupun di lingkungan sekitar,” katanya, Selasa (21/5).

Nurul mengatakan, pelajar dan santri putri harus menghormati kinerja penyelenggara Pemilu. “Percayakan rekapitulasi nasional hasil Pilpres 2019 yang telah diumumkan KPU,” katanya.

“Saya atas nama IPPNU mengimbau kepada seluruh pelajar putri untuk tidak mudah terprovokasi pada hal-hal yang menyebabkan perpecahan bangsa, mari semua menahan diri, fokus belajar, dan ibadah Ramadhan, ajak teman sekitar untuk saling produktif melakukan hal positif,” ajak Nurul.

Dirinya berharap pelajar dan santri putri tidak terbawa arus provokasi dan tetap teguh menjaga perdamaian dan persatuan bangsa. 

“Saya menegaskan kepada seluruh pelajar dan santri putri agar menerima segala keputusan KPU sebagai lembaga yang diberi mandat oleh negara untuk melaksanakan proses demokrasi melalui pemilihan umum,” ungkapnya. Artinya KPU adalah amanah rakyat yang wewenangnya harus dihormati, lanjutnya.

"Kita percayakan saja kepada KPU sebagai ulil amri dalam negara bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya. (Anty Husnawati/Ibnu Nawawi)