::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gus Ali Masyhuri Tegaskan Kritik ke KPU Harus Berdasar Bukti dan Fakta

Rabu, 22 Mei 2019 12:20 Nasional

Bagikan

Gus Ali Masyhuri Tegaskan Kritik ke KPU Harus Berdasar Bukti dan Fakta
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo Jawa Timur, KH Agus Ali Masyhuri yang akrab disapa Gus Ali menilai keberadaan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai perwujudan UU dalam penyelenggara pemilu. Sehingga, jika ada pihak-pihak yang mengkritisi KPU tetapi tidak disertai data yang tidak dapat dipertanggungajawabkan, kritikan tersebut sebagai hal yang tidak tepat.

"Kita ini selain hidup beragama, juga bernegara. Harus menghormati keberadaan KPU karena sudah dikuatkan oleh UU," kata Gus Ali, Selasa (21/5) malam.

Dalam penyelenggaraan Pemilu 2019, menurut Gus Ali kerja-kerja KPU sudah bagus. Jikapun ada kekurangan, itu sebagai hal yang manusias. Tetapi, pada prinsipnya KPU sudah bekerja secara maksimal.

"Kalau ada data kecurangan dalam pemilu, bisa ditempuh melalui jalur UU, bisa melaporkan ke Mahkamah Konstitusi. Kita harus dewasa," sambung kiai yang juga Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur ini. 

Dalam Pemilu 2019, menurut Gus Ali harus diakui dan disasari keterlibatan warga NU dan NU sebagai payung bangsa. Dengan demikian NU menjadi kekuatan penyeimbang dan perekat.

"NU sesantiasa hadir di semua bidang yang dibutuhkan. NU membantu menciptakan Pemilu berjalan damai, karena sebagai organisasi tugas pokok NU mengawal moral bangsa, bagaimana persatuan kedamaian tetap terjaga di Republik ini. Itu suatu keharusan," paparnya.

Menghadapai pengumuman KPU tentang hasil Pemilu yang dijadwalkan 22 Mei 2019 besok, Gus Ali mengimbau agar santri, warga NU dan masyarakat umum dapat menjaga ketenangan. Masyarakat jangan terprovokasi dari hal-hal yang jauh dari kebenaran. 

"Masyarakat harus cerdas memilih, memilah, dan menangkap berita. Karena hasil penelitian mengatakan bangsa Indonesia 91 persen mengikuti negative news. Itu sebabnya berita hoaks laris manis dalam kondisi seperti saat ini," terang Gus Ali.

Ia juga menilai sebenarnya pascapemilu, masyarakat sudah kembali bersatu. Misalnya di Jawa Timur, situasinya tetap aman. Hanya saja, ada segelintir elit yang tampaknya senang membuat situasi menjadi ruet, seolah-olah ada perpecahan. 

Atas persoalan ini, Gus Ali mengimbau para elit menyadari bahwa dalam pemilihan ada yang kalah dan ada yang menang. Para kontestan dan pendukungnya harus siap terhadap dua kemungkinan pascapemilihan. 
"Yang menang jangan sombong, yang kalah jangan kecewa," pungkasnya. (Kendi Setiawan)