::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gus Sholah: Aksi Demo di Bawaslu Bukan Gerakan Bela Islam

Rabu, 22 Mei 2019 13:05 Nasional

Bagikan

Gus Sholah: Aksi Demo di Bawaslu Bukan Gerakan Bela Islam
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pesantren Tebuireng Kabupaten Jombang Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah mengangkat suara terkait demonstrasi penolakan pemilu 2019 di depan kantor Bawaslu, Jakarta Pusat. Ia menyatakan prihatin atas insiden yang mencederai demontrasi tersebut.

Mantan Wakil Ketua Komnas Ham RI ini menampik bahwa aksi demonstrasi di depan Bawaslu ini sebagai gerakan aksi bela Islam. Menurutnya, aksi demonstrasi di depan Bawaslu hingga kini tidak ada kaitannya sama sekali dengan aksi bela agama.

“Ini nggak ada kaitan dengan bela Islam. Ini hanya soal ketidakpuasan terhadap hasil pilpres 2019,” kata Gus Sholah kepada NU Online, Rabu (22/5) pagi.

Demikian disampaikan Gus Sholah ketika menganggapi klaim sekelompok demonstran di lapangan bahwa gerakan demonstrasi penolakan hasil pemilu 2019 sebagai gerakan aksi bela Islam.

Gus Sholah menunjukkan bukti kenapa aksi demonstrasi di depan kantor Bawaslu tidak terkait dengan agama mana pun, termasuk agama Islam. Ia mengatakan bahwa kedua kontestan pemilu itu Muslim. Kalau penolakan atas hasil pemilu 2019 dianggap sebagai aksi belas Islam, tentu hal ini tidak masuk logika.

“Peserta pemilu 2019 keduanya Islam. Kiai Makruf kurang Islam apa? Jadi, ini nggak ada hubungan dengan agama,” kata Gus Sholah.

Gus Sholah menyinggung peran para tokoh agama, kiai, dan masyarakat santri. Ia menilai penting peran para pemuka agama dan masyarakat santri dalam mengatasi suhu sosial-politik yang memanas. Mereka, kata Gus Sholah, memiliki otoritas keagamaan dan legitimasi moral untuk meredam gejolak social-politik atas nama agama.

“Untuk tokoh agama, kiai, dan santri, kita berusaha meredam, menenangkan masyarakat, agar tidak timbul banyak korban. Syukur bisa diatasi dan tidak sampai jauh,” kata Gus Sholah.

Kepada pemerintah dan aparat keamanan, Gus Sholah mengimbau agar mereka mengutamakan pendekatan profesional. Namun demikian, Gus Sholah mengharapkan aparat keamanan untuk mengutamakan pendekatan yang manusiawi agar tidak ada lagi korban jatuh. Menurutnya, jumlah korban harus distop.

“Jangan sampai ada korban lagi. Sampai sekarang korbannya belum diketahui berapa banyak. Harus distop korban lagi,” kata Gus Sholah. (Alhafiz K)