::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pelajar Purbalingga Produksi Film 'Orang-orang Tionghoa'

Kamis, 23 Mei 2019 01:45 Daerah

Bagikan

Pelajar Purbalingga Produksi Film 'Orang-orang Tionghoa'
Syuting film 'Orang-orang Tionghoa'.
Purbalingga, NU Online
Setelah absen selama tiga tahun pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP), Smega Movie ekstrakulikuler sinematografi SMK Negeri 1 Purbalingga, Jawa Tengah rencananya kembali mengirimkan karya filmnya ke program kompetisi pelajar FFP 2019 se-Banyumas Raya.

Tahun ini, para pelajar itu sedang menggarap sebuah film dokumenter tentang perjuangan orang-orang Tionghoa di Purbalingga dalam melewati kekuasaan Orde Baru. Film tersebut diberi judul Orang-orang Tionghoa.

Sutradara film, Icha Feby Nur Futikha, mengatakan setelah melakukan riset, ia dan teman-teman mengangkat tiga subyek dalam film. "Subyek orang Tionghoa yang dari dulu tetap beragama Konghucu, yang beragama Katolik, dan yang beragama Islam," jelas siswi kelas X jurusan Otomatisasi Tata Kelola Perkantoran (OTKP).

Pada film yang saat ini masih dalam tahap editing, dibahas bagaimana sejarah warga Tionghoa di Indonesia wajib berganti nama Indonesia di masa Presiden Soeharto bila ingin tetap menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Termasuk ketiga subyek dalam film itu karena adanya Keputusan Presidium Kabinet Nomor 127 Tahun 1966 tentang Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia yang memakai nama Cina.

Perjuangan panjang, menurut periset Rena Aryana Putri, dialami oleh subyek yang sampai saat ini menganut agama Konghucu yaitu Ambing Setiawan. "Pada tahun 1975, Om Ambing pernah rela KTP-nya ditulis Kristen di kolom agama. Ya itu karena saat Orde Baru, hanya lima agama yang diakui negara," ungkap siswi kelas XI Jurusan Pemasaran.

Selain soal agama Konghucu yang tidak diakui negara, di masa Orde Baru, kebudayaan Tionghoa juga turut diberangus. Orang tidak bebas menyaksikan kesenian Liong, Barongsai, dan Wayang Potehi seperti sekarang ini.

"Baru setelah Reformasi yang dimulai era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gusdur, agama Konghucu dan budaya Tionghoa mulai menghirup udara bebas hingga Presiden Joko Widodo sekarang," jelas Rena.

Menurut Icha, membuat film dokumenter itu mengasikan. "Awalnya terasa membosankan, namun semakin banyak informasi yang kami dapat, ternyata ada tantangan disitu. Kami mendapat pengetahuan yang sama sekali tidak kami dapatkan di bangku sekolah," tegasnya.

Walaupun, pihak sekolah tidak merespons kreativitas siswa-siswinya dalam memproduksi film ini, dengan modal uang sendiri dan pinjaman kamera serta pendampingan dari Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga, film mereka nantinya diharapkan akan banyak diapresiasi. (Red: Kendi Setiawan)