::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Terkait Situasi Terkini, PBNU Imbau Seluruh Komponen Bangsa Rajut Kembali Persatuan

Kamis, 23 Mei 2019 20:00 Nasional

Bagikan

Terkait Situasi Terkini, PBNU Imbau Seluruh Komponen Bangsa Rajut Kembali Persatuan
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas menghimbau kepada umat Islam untuk menjadikan Ramadhan sebagai bulan suci yang tidak boleh dinodai dengan tindakan-tindakan anarkis dan yang dapat mengganggu ketenteraman dan ketenangan orang lain untuk bekerja dan beribadah.

“Di sepertiga terakhir bulan Ramadhan umat Islam dihimbau agar memperbanyak dzikir, tafakkur, dan doa untuk keselamatan bangsa dan negara,” kata Robikim dalam rilis yang diterima NU Online, Kamis (23/5).

Dia mengajak kepada semua pihak untuk tunduk kepada mekanisme konstitusional jika tidak puas dengan hasil pemilu. Di samping itu, ia juga menyerukan kepada seluruh komponen bangsa untuk merajut kembali persatuan dan kesatuan bangsa. 

“Dan menghindari sikap yang dapat memperpanjang polarisasi (perkubuhan) dan segregasi (perpecahan),” lanjutnya.

Kepada aparat kepolisian dan aparat negara lainnya, Robikin menghimbau agar bertindak dalam koridor hukum dan perundang-undangan dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Menurutnya, aparat kepolisian perlu bertindak tegas terhadap para perusuh dan pembuat onar demi menjaga ketenteraman dan ketenangan bulan Ramadhan.

Terakhir, Robikin mendorong agar diselenggarakan halal bihalal nasional antar seluruh komponen bangsa untuk merajut kembali persaudaran yang sempat koyak.

“Mendorong penyelenggaraan halal bihalal nasional guna merajut kembali tali ukhuwwah Islâmiyah, ukhuwwah wathaniyah, dan ukhuwwah insâniyah,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, terjadi beberapa aksi demonstrasi di beberap titik di Jakarta setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan rekapitulasi hasil penghitungan pemilihan presiden (pilpres) 2019 pada Senin, 20 Mei dini hari lalu. Puncak aksi terjadi pada 22 Mei. Hingga berita ini diturunkan, ada 8 orang meninggal, 730 korban yang tengah ditangani medis, serta 257 orang perusuh dan provokator yang diamankan polisi akibat aksi demonstrasi tersebut. (Red: Muchlishon)