::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Persebaran Radikalisme di Kampus Negeri Perlu Penanganan Serius

Jumat, 24 Mei 2019 09:00 Daerah

Bagikan

Persebaran Radikalisme di Kampus Negeri Perlu Penanganan Serius
Duskusi publik di UNS.
Solo, NU Online
Hasil penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta dan beberapa perguruan lain memperlihatkan pesatnya pengaruh kelompok Islam yang bergerak secara eksklusif. Mereka berkembang pesat di delapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jawa Tengah dan Yogyakarta. 

Hal tersebut, menurut Naeni Amanullah perlu mendapatkan perhatian yang besar dan penanganan dari berbagai pihak, khususnya pejabat kampus.

"Pejabat kampus seharusnya berani mengambil sikap dalam mengatur kehidupan keagamaan kampus. Jangan sampai kelompok tersebut semakin bebas berkembang," terang salah satu peneliti dari LPPM Unusia ini, Kamis (23/5).

Pandangan Naeni disampaikan pada acara diskusi bertajuk Islam Eksklusif Transnasional Merebak di Kampus Negeri yang diselenggarakan di Aula FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Naeni menyebutkan, beberapa kelompok yang terindikasi memiliki ciri gerakan Islam eksklusif yang cenderung doktriner, tertutup. Salah satu di antaranya, yakni kelompok hizbut tahrir yang juga mengusung ideologi negara khilafah. Padahal ini bertentangan dengan Pancasila yang telah disepakati menjadi dasar negara Indonesia.

"Ada kontradiksi, kampus harusnya mengembangkan pemikiran kritis, sedangkan Islam eksklusif cenderung doktriner, tertutup. Bagaimana bisa mereka berkembang di kampus?" tutur Naeni.

Lebih lanjut diungkapkan Naeni, kampus mestinya harus dibangun dengan tradisi akademis yang lebih kuat, tetapi tetap tidak boleh melanggar kebebasan akademik.

Dari penelitian yang dilakukan, juga didapat hasil, mahasiswa memiliki perhatian bahkan simpati terhadap isu-isu yang berkaitan dengan kelompok tersebut.

"Selama ini ada isu yang mengarah ke radikalisme, seperti saat HTI dibubarkan mereka bergerak, saat pelarangan bendera ISIS, mereka menunjukkan simpati," ujar dia

Penelitian yang dilakukan LPPM Unusia ini mengambil sampel dari delapan kampus negeri, yakni UNS Surakarta, IAIN Surakarta, Undip Semarang, Unnes Semarang, UGM Yogyakarta, UNY Yogyakarta, Unsoed Purwokerto, dan IAIN Purwokerto.

Selain Naeni, sejumlah narasumber juga dihadirkan dalam diskusi tersebut, antara lain Ahmad Hafid (IAIN Surakarta), Bahar Elfudllatsani (Lakpesdam NU Surakarta), Hermanu Joebagio (guru besar UNS), dan Zainul Abbas dari IAIN Surakarta. (Ajie Najmuddin/Ibnu Nawawi)