::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

RAMADHAN DI LUAR NEGERI

Merajut Cinta di Masjid Al-Ikhlas Uijeong-bo Korea Selatan

Sabtu, 25 Mei 2019 03:15 Internasional

Bagikan

Merajut Cinta di Masjid Al-Ikhlas Uijeong-bo Korea Selatan
Moh Fathurrozi di Korea Selatan.
Korea Selatan adalah salah satu negera idaman para mellenial untuk travelling, karena keindahan kotanya yang tertata rapi dan bersih. Bukan sekedar keindahan alam dan penataan kotanya, kuliner Korea juga bisa menggoyang lidah para penikmatnya.

Selain itu, K-Pop musik modern Korea merupakan magnet tersendiri bagi para millenial, apalagi soal penampilan dan life style-nya yang menjadi ikon paling digemari saat ini. Dalam dunia telekomunikasi, Korea tidak ketinggalan, Samsung dan LG termasuk salah satu produk telekomukasi terbesar dan terkenal di seantero dunia.

Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini saya kembali diberikan kesempatan untuk berkunjung ke Korea dalam rangka Safari Ramadhan sebagaimana tahun-tahun yang lalu. Perjalanan saya ke Korea kali ini, atas undangan Masjid Al-Ikhlas Uijeong-bo bekerjasama dengan PCINU Korsel, untuk kegiatan keagamaan selama Ramadhan dan Idul Fitri 1440 Hijriah.

Melalui penugasan dari PCINU Korsel, perjalanan saya kali ini bersama tujuh dai muda dari pesantren NU. Ketujuh dai tersebut adalah Kiai Mahmudi, alumni Pesantren At-Taqwa; Kiai Masdain, alumni Pesantren Darussalam; Rifqi Sururi, alumni Pesantren Al-Hikam Depok.

Kemudian ada juga Ali Fitriana, alumni Pesantren Daruttauhid Malang; Faridur Rohim, alumni Pesantren Hadiqah Usysyaqi Al-Qur’an Ciwaringin Cirebon; Moh Azmi Alify, alumni Pesantren Lirboyo Kediri; dan saya sendiri dari Pesantren Al-Khoziny Buduran Sidoarjo. 

Perjalanan saya menuju Korea kali ini malalui penerbangan rute Jakarta Soekarno-Hatta International Airport menuju Incheon International Airport transit di Kuala Lumpur. Perjalanan udara ini dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Kuala Lumpur menggunakan pesawat Malaysia Airnes dengan nomor flight MH0712, Jumat 10 Mei 2019 pukul 09.10 WIB pagi, dan tiba di bandara Kuala Lumpur pukul 12.25 waktu setempat.

Transit sejenak di negaranya Ipin dan Upin, Malaysia, sekitar dua jam, kemudian melanjutkan perjalanan dari Kuala Lumpur pada pukul 14.05 menuju ke Incheon International Airport dengan menggunakan pesawat yang sama dengan nomor flight MH0038. Kami pun tiba di Negeri Ginseng pada pukul 21.45 waktu setempat. Alhamdulillah.

Setelah keluar dari pesawat, kami bertujuh antre di bagian Imigrasi untuk pemeriksaan. Alhamdulillah lancar tanpa pertanyaan yang blibet. Seperti biasa bagian ini, Imigrasi, menjadi momok yang menakutkan bagi para pengunjung, sebab, biasanya, banyak pertanyaan yang diajukan, sebagaimana yang terjadi pada saya tujuh tahun yang lalu. 

Setelah mengantre pengambilan bagasi, kami keluar menuju pintu kedatangan dan langsung disambut oleh Ketua Tanfidziyah PCINU Korsel, Kia Ali Nur Rahim, dan segenap pengurus PCINU Korsel serta Banser Korsel. Kami pun digiring ke parkiran mobil menuju Sekretariat PCINU Korsel. Di sana kami sudah ditunggu oleh Rais Syuriyah PCINU Korsel, KH Ulin Huda al-Amin.

Setelah tiba di Sekretariat PCINU, kami disambut hangat oleh Rais Syuriyah PCINU Korea Selatan. Kami pun bercengkrama dan beramahtamah sekaligus sahur bersama dengan para pengurus PCINU Korsel dan sebagian jamaah Masjid Al-Mujahidin Incheon. Perlu diketahui bahwa Kantor Sekretariat PCINU bersampingan dengan Masjid Al-Mujahidin.

Setelah melakukan sahur bersama, saya dan sebagian jamaah Masjid Al-Ikhlas Uijeong-bo yang ikut menjemput ke bandara berpamitan menuju kota Uijeong-bo.

Tahun 2013 lalu adalah awal perjalanan saya ke Negeri Ginseng sekaligus sebagai perintis bersafari Ramadhan dari kalangan Nahdhiyin (sebutan warga Nahdlatul Ulama) ke Korea Selatan dalam rangka keagamaan. Saat itu, saya pernah singgah ke salah satu masjid yang ada di daerah atas, dekat Seuol, yatu Uijeong-bo. Kota ini dekat dengan kota perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara.

Di Masjid Al-Ikhlas Uijeong-bo ini, kala itu saya mengisi beberapa rangkaian keagamaan, termasuk shalat berjamaah, Tahlil bersama, Tarawih bersama, Tadarus bersama dan pembekalan tentang zakat profesi. Di masjid ini, tidak semua jamaah adalah kalangan Nahdliyin. Namun, mereka semua kompak dalam soal keagamaan serta mengesampingkan perbedaan.

Kala itu, kota ini tidak seramai dan sepadat sekarang, sebab pada saat itu masih dalam tahap pembangunan. Meskipun demikian, kota Uijeong-bo tetap memesona, indah, dan bersih. Alhamdulillah, saat ini saya kembali kota Uijeong-bo untuk mengemban amanah sebagaimana tujuh tahun yang lalu. Tepatnya di masjid Al-Ikhlas. Masjid ini terletak di tengah-tengah kota Uijeong-bo, dekat pusat pembelanjaan; mal atau pertokoan bawah tanah, stasiun kereta cepat, dan pasar tradisional. 

Menurut sebagian jamaah, pemilihan letak di tengah-tengah kota seperti ini, adalah upaya dan sebagai alternatif untuk memudahkan transportasi kaum Muslimin di Korea berkunjung walau sekedar melaksanakan shalat sunah dan iktikaf, selain 'berthawaf' ke tempat pembelanjaan.

Berpuasa di kota Uijeong-bo, saat ini terasa sedikit lebih nyaman dibandingkan tujuh tahun yang lalu. Sebab saat ini sedang musim semi, banyak tetumbuhan yang sedang mekar, dan hawanya pun relatif bagus, sejuk. Berbeda pada tahun 2013, kala itu sedang musim panas bahkan puncaknya musim panas. Suasana yang lebih sejuk di Ramadhan tahun ini agak meringankan umat Islam di Korea Selatan yang harus berpuasa menahan lapar dan dahaga selama 17 jam setiap harinya.

Tradisi yang paling semarak di masjid dan mushala pada umumnya di Korea adalah saat melaksanakan buka puasa, yaitu berbuka puasa bersama, layaknya para santri di pesantren tradisional. Utamanya di hari libur seperti Sabtu-Ahad. Mereka berbondong-bondong ke masjid untuk melaksanakan buka bersama, Tarawih, dan sahur bersama.

Sementara untuk hari aktif bekerja, Senin hingga Jumat, jumlah jamaah di setiap masjid dan mushala bervariasi. Kembang-kempisnya jamaah tergantung posisi geografis masjid dan mushala itu. Jika masjid dan mushala itu berada di kawasan pabrik dan dekat dengan tempat tinggal jamaah, jumlah jamaahnya relatif banyak. Seperti di kota Incheon dan Ansan yang masuk daerah atas, atau Changwoen dan Gimhae di daerah bawah. Namun, jika letak geografis masjid itu jauh dari kawasan pabrik maka jumlah jamaahnya bisa dihitung jari.

Masjid Al-Ikhlas Ujieong-bo, sebagaimana saya jelaskan di awal, terletak di tengah-tengah pusat kota Ujieong-bo, bukan di kawasan pabrik. Sementara tempat tinggal mayoritas para jamaah masjid ini berada di kawasan pabrik, yang hampir rata-rata jarak tempuh antara tempat tinggal dan masjid satu jam perjalanan. Demi memakumurkan masjid ini,  ada sebagian pengurus yang rela tinggal di masjid.

Ini artinya, jika hari aktif kerja Senin-Jumat, jumlah jamaah masjid ini bisa dihitung jari, ditambah lagi ada sebagian jamaah yang kerja malam hari. Namun, pada hari libur kerja, Sabtu-Ahad, hampir semua jamaah Masjid Al-Ikhlas berbondong-bondong berangkat ke masjid walau sekedar silaturahim.
 
Jadwal aktivitas saya di masjid ini secara umum terbagi dua; hari aktif kerja dan hari libur kerja. Di hari kerja, saya hanya mengimami shalat lima waktu, Tarawih, mengisi kajian sebelum dan setelah Tarawih, Tadarus Al-Qur’an bersama dan kajian setelah Subuh. 

Kajian sebelum Tarawih dan setelah Subuh adalah membaca kitab Nashaihul Ibad, karya anak bangsa, Syaikh Imam Nawawi al-Bantani. Sedangkan kajian Tarawih adalah membaca kitab Safinatunnaja disertai syarahnya, Kasyifatussaja. 

Sementara itu, untuk hari libur kerja beban aktivitas bertambah, yaitu Tadarus Tajwid dan tadabbur kandungan Al-Qur’an setelah shalat Dzuhur dan Ashar. Dalam pelaksanaan kajian ini, saya membatasi durasi waktunya antara 15-30 menit, sebab mayoritas dari jamaah ini bukan berasal dari kalangan pesantren. Selain penyampaian kajian kitab, di akhir kajian ada waktu untuk tanya jawab. Durasi waktu tanya jawab kadang menyita waktu yang sangat lama. Antusias dan keaktifan mereka mereka relatif tinggi. Hal ini dikarekan faktor fenomena yang dialami mereka dalam keagamaan dan bersosial sangat kompleks.

Dalam menyampaikan isi materi, saya fokus pada tiga aspek. Pertama, aspek keimanan. Aspek keimanan ini saya implementasikan dalam aspek syukur. Mensyukuri semua anugerah yang diberikan oleh Sang Maha Pemberi. Mensyukuri dalam bisa beraktivitas dan bisa bertanggungjawab mencari nafkah untuk keluarga. Mensyukuri dapat melaksanakan ibadah dengan baik di Bumi Ginseng walau mayoritas penduduknya adalah non-Muslim. Mensyukuri atas hidayah yang diberikan oleh Allah dapat memakmurkan masjid dengan damai dan tenang. Syukur adalah sikap agung yang harus dimiliki oleh setiap Muslim. Nabi bersabda, "Siapa yang tidak mau berterima kasih kepada sesama, maka sejatinya tidak tidak mau berterima kasih kepada penciptanya."

Kedua, aspek rahmat Tuhan. Aspek ini, saya arahkan mereka untuk selalu optimis dalam menjalani kehidupan ini tanpa harus banyak mengeluh soal materi dan lainnya. Aspek ini mengedepankan sikap positif dan optimis dalam malangkah tanpa disertai rasa pesimis. Ampunan Tuhan sangat luas dibandingkan beban dosa yang kita pikul. Tujuan hidup adalah beribadah dan mengabdi kepada Sang Khaliq. Apa pun yang telah berlalu dari kehidupan kita, harus menjadi pelajaran yang berharga, namun hidup harus terus malangkah. Tidak boleh putus asa atas kasih sayang Tuhan. Hanya orang kafir yang berputus asa terhadap kasih sayang-Nya.

Ketiga, aspek ukhuwah islamiyah. Aspek ini saya tekankan pentingnya persaudaraan antar sesama Muslim. Seorang Muslim yang baik adalah orang Muslim yang lain selamat dari kejahatan lisan dan tangannya. Termasuk menjaga sikap dalam berinteraksi dalam bermedia-sosial; men-share konten-konten hoaks, menulis status yang berpotensi menyinggung perasaan orang lain, dan mencaci maki. Saring sebelum sharing. Kebaikan apa pun, jika disertai dengan menggunjing, mencaci maki dan menyalahkan orang lain maka nilai kebaikan itu akan terkuras oleh keburukannya. Nabi tidak pernah mengajarkan sikap keras, mencaci maki, dan menyalahkan orang lain.

Ketiga aspek di atas selalu saya tekankan untuk menetralisir cara pandang yang berlebihan dalam beragama, bersikap moderat dalam menghadapi realita dan seimbang dalam berkomentar.

Jamaah Masjid Al-Ikhlas ini hampir semuanya berstatus jomblo. Maka, dalam pengajiannya yang saya isi selalu disertai joke-joke segar agar mereka antusias mengikuti kajian.

Kajian di Masjid al-Ikhlas Uijeong-bo Korsel juga diikuri melalui medsos dengan mengetik 'Masjid Al-Ikhlas Uijeongbo'.

Selamat menunaikan ibadah puasa sepuluh terakhir.

Salam cinta dari Uijengbo.

Moh Fathurrozi, Dai Ambassador PCINU Korsel 2019.