::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Pesan Gus Salam Denanyar untuk para Santri Jelang Liburan

Sabtu, 25 Mei 2019 03:30 Daerah

Bagikan

Ini Pesan Gus Salam Denanyar untuk para Santri Jelang Liburan
KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
Jombang, NU Online
Jelang lebaran, para santri umumnya akan pulang ke rumah masing-masing. Mereka kembali menikmati suasana kampung halaman dalam waktu lama. Sebab, pesantren biasanya meliburkan para santri hingga setelah hari raya Idul Fitri. Dengan begitu, mereka bakal banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Pengasuh Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar Jombang Jawa Timur KH Abdussalam Shohib mengimbau para santri yang akan libur untuk menjadikan momen tersebut sebagai ajang berbakti kepada orang tua dan membalas kebaikan yang selama ini diberikan.

“Saat kalian pulang, jadikan kesempatan itu untuk balas budi orang tua,” katanya di sela kegiatan Peringatan Nuzulul Qur'an Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar, Jombang, Kamis (23/5) malam.

Kiai yang kerap disapa Gus Salam ini juga mengimbau kepada para santri untuk tidak menjadikan momentum liburan pondok sebagai ajang ‘balas dendam.’

“Jangan jadikan liburan sebagai ajang balas dendam. Misalnya di pondok tidak boleh nonton TV, di rumah lalu nonton TV 24 jam. Begitu juga pegang HP. Jangan begitu,” imbuhnya.

Menurut Gus Salam, sebagai santri harus tahu waktu. Santri harus bisa melewati waktu-waktunya dengan lebih berharga dan bermanfaat dibandingkan dengan yang bukan kalangan santri.

“Untuk itu, para santri tetap harus menjaga akhlaknya,” tegas cucu KH Bisri Syansuri yang merupakan salah satu pendiri NU sekaligus pendiri Pesantren Mambaul Ma’arif ini.

Di samping itu, Gus Salam juga berpesan kepada para santri untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang sudah diperoleh selama di pondok.

“Jangan lupa, ilmu yang didapat bukan untuk diketahui saja atau pamer. Tetapi harus diamalkan. Minimal sepersepuluh dari ilmu yang didapat,” pungkas Gus Salam. (Syamsul Arifin/Musthofa Asrori)