::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

IPNU-IPPNU Kenalkan Pendidikan Inklusi Lewat Foto dan Video

Senin, 27 Mei 2019 08:00 Daerah

Bagikan

IPNU-IPPNU Kenalkan Pendidikan Inklusi Lewat Foto dan Video
Sosialisasi pendidikan inklusi di Bondowoso.
Bondowoso, NU Online
Puluhan Pengurus Cabang (PC) bersama Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur menggelorakan pendidikan inklusi. Kali ini dilakukan melalui pelatihan fotografi dan videografi.

Pendidikan tersebut merupakan program Unicef dan Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia (LPIKPI) yang dilaksanakan Rumah Makan Iwak Pe di Kota Kulon Bondowoso, Ahad (26/5)

“Kami di sini adalah relawan yang berlatarbelakang sebagai jurnalis dengan berupaya menggelorakan pendidikan inklusi melalui pelatihan fotografi dan videografi,” kata relawan pendidikan inklusi Bondowoso, Shokhul Huda.

Menurut jurnalis Radar Ijen Jawa Pos tersebut, di Bondowoso pendidikan inklusi sudah diawali lima tahun lalu. “Bahkan sejak 2017 sudah diuncurkan, tapi gaungnya belum sampai di tataran akar rumput,” jelasnya.

Dalam pandangannya, di masyarakat bawah masih sangat awam terhadap hal ini. Bahkan kebanyakan orang belum mengerti apa itu pendidikan inklusi. “Ketika orang bicara pendidikan inklusi, masyarakat bawah tidak langsung memiliki pemahaman tentang pendidikan tersebut,” keluhnya.

Menurutnya, pendidikan inklusi sendiri adalah bagaimana sekolah reguler menerima anak berkebutuhan khusus dan anak yang tidak berkebutuhan khusus dengan disatukan.

"Kita ingin menggelorakan itu," jelasnya alumni Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Bondowoso tersebut.

Karena dirinya mengajak aktivis IPNU dan IPPNU untuk turut berkiprah. “Yakni bagaimana menjelaskan bahwa di Bondowoso ada pendidikan inklusi,” harapnya.

Dari gerakan yang melibatkan anak muda ini diharapkan akan disosialisasikan ke teman lain. “Sehingga disampaikan kepada masyarakat apa itu pendidikan inklusi,” terangnya.

Kondinator Program Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia (LPIKPI) Bondowoso, Solehati Nofitasari mengatakan bahwa lembaganya salah satu mintra dari Unicef untuk pengembangan pendidikan inklusi yang ada di Bondowoso.

"Kami di sini untuk mengembangkan pendidikan inklusi yang ada Bondowoso dan kebetulan kami ada di tiga kecamatan yaitu Grujugan, Tlogosari dan Botolinggo," ungkapnya.

Menurutnya, di Bondowoso lembaga mitra yang bergabung ada 20 sekolah dengan rincian 13 sekolah dasar, tujuh SMP dan MTs.

Ia mengemukakan akan lebih banyak menggandeng berbagai komponen masyarakat maupun lembaga sebagai mitra. “Merekalah yang nantinya mengembangkan atau menggelorakan pemahaman sekolah literasi kami kepada masyarakat yang lebih luas,” ungkapnya.

Dijelaskannya, hingga kini pendidikan inklusi hanya menjadi obrolan kalangan tertentu. “Tapi masyarakat secara umum masih kurang memahami keberadaannya,” jelasnya. 

Seperti pemahaman bahwa pendidikan inklusi hanya untuk anak berkebutuhan khusus. “Padahal pendidikan inklusi juga untuk anak-anak yang mengalami masalah seperti lamban bicara, lamban belajar, atau ada kendala masalah dalam keluarga,” urainya.

Lewat pelatihan videografi dan fotografi diharapkan upaya memasyarakatkan pendidikan inklusi akan semakin tersebar. “Hari ini pelatihan, berikutnya akan ada lomba," ucapnya.

Ketua Pimpinan Cabang IPNU Bondowoso, Lukman Erfan mengatakan bahwa pelatihan pendidikan inklusi sangatlah bagus, apalagi diiringi dengan pelatihan fotografi dan videografi.

"Peserta bisa lebih mengembangkan karyanya untuk diri sendiri dan tentu saja orang lain," katanya.

Dirinya menginginkan, setelah pelatihan bisa dikembangkan di masing-masing kepengurusan. “Sehingga hakikat pendidikan inklusi semakin dipahami secara lebih merata di masyarakat,” pungkasnya. (Ade Nurwahyudi/Ibnu Nawawi)