::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tugas Sarjana NU Menyesuaikan dengan Harapan Pejuang Bangsa

Jumat, 31 Mei 2019 07:45 Daerah

Bagikan

Tugas Sarjana NU Menyesuaikan dengan Harapan Pejuang Bangsa
Bondowoso, NU Online
Kemerdekaan bagi bangsa Indonesia telah dilakukan para pahlawan, terutama sejumlah kiai dan ulama. Tugas generasi muda, termasuk di dalamnya adalah para sarjana yakni menyesuaikan dengan cita-cita dan harapan para pendahulu.

Penegasan tersebut disampaikan KH Mas’ud Ali saat memberikan sambutan pada kegiatan ngabuburit dan buka bersama yang diselenggarakan Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Bondowoso, Jawa Timur.

“Ada dua hal yang mendasari berdiri Nahdlatul Ulama yakni mewujudkan kedaulatan dan kemerdekaan negeri ini,” kata Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso tersebut, Kamis (30/5). 

Dan hingga kini bangsa Indonesia telah merdeka, bahkan akan memasuki usia 74 tahun. “Artinya hari ini kita sudah merdeka," ungkapnya.

Menurut dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember ini, yang perlu diperkuat adalah mewujudkan kemerdekaan itu seperti harapan pendahulu. “Yakni bagaimana peran kita di tengah masyarakat yang harus menyesuaikan dengan cinta-cinta para pendahulu,” urainya.

Khusus kepada ISNU, dirinya berharap peran-peran intelektual di kalangan sarjana hendaknya bisa dimaksimal. “Karena inilah kepentingan yang selalu kita bawa sebagai pengurus NU di semua tingkatan,” jelasnya. 

Dirinya juga mengamanatkan semua perangkat yang ada di lingkungan Nahdlatul Ulama harus sejalan dan senapas dengan jamiyah ini. 

KH Mas’ud Ali turut menyampaikan data yang dihasilkan dari hasil penelitian bahwa yang banyak memproduksi kabar bohong atau hoaks adalah para sarjana. “Ini fakta yang kurang baik, karena bagaimana mungkin kalangan yang sudah memiliki intelektualitas tinggi justru melakukan tindakan tidak terpuji,” sergahnya. 

Dalam pandangannya, tersebarnya kabar bohong dan ujaran kebencian selama ini tentu menyiderai komitmen dan harapan pendiri bangsa yakni para kiai dan ulama. 

“Karenanya, kita ingin semangat dan kemauan sejalan dengan apa yang telah digariskan oleh kiai, demi menjaga keberlangsungan dan keutuhan negara serta bangsa,” harapnya.

Sedangkan untuk membedakan gerakan dalam menjaga keutuhan dan keberlangsungan bangsa sebagaimana cita-cita para muassis, maka yang harus dikedepankan sarjana NU yakni memelihara ajaran Islam Ahlussunah wal Jamaah.

“Jadi, tugas NU terutama para sarjananya adalah memastikan keberlangsungan negeri yang menghiasinya dengan Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” tegasnya.

Menurutnya, inilah sumbangsih terbesar yang dapat dilakukan ISNU. "Jika berperan sesuai dengan semangat dan cita-cita para dahulu, maka peran ISNU akan memberikan kontribusi besar kepada bangsa dan negara, serta bagi tegaknya ajaran Ahlussunnah wal Jamaah." tandasnya.

Ketua PC ISNU Bondowoso, Mohammad Abdul Holik mengatakan, tugas organisasi memastika terselenggaranya pelantikan, rapat kerja dan pembentukan pengurus anak cabang.

"Hingga kini embrio untuk pendirian kepengurusan di 23 kecamatan akan bisa tuntas beberapa bulan mendatang,” katanya.

Menurutnya, keberadaan kepengurusan di tingkan kecamatan hingga desa sebagai ujung tombak. “Merekalah yang perlu didampingi untuk mengembangkan potensi yang ada,” ujarnya. 

Dirinya berharap kepengurusan yang ada dapat mendata seluruh sarjana NU yang kemudian diklasifikasikan sesuai keahlian yang dimiliki. “Mereka yang akan kita libatkan dalam pengembangan NU serta masyarakat,” ungkapnya.

Acara dikemas dengan diskusi yang menghadirkan Direktur Pascasarjana IAIN Jember H Abd Halim Soebahar, Honest Dody Molasy (Unej), Cristyan Agung selaku pegiat budaya.  Selanjutnya, para pengurus diagendakan bertemu dengan Bupati Bondowoso, KH Salwa Arifin. (Ade Nurwahyudi/Ibnu Nawawi)