::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengubah Warna di Bulan Puasa

Sabtu, 01 Juni 2019 06:00 Esai

Bagikan

Mengubah Warna di Bulan Puasa
Oleh Didin Sirojuddin AR

إنً اللًه هو الغنيً الحميد

Artinya, "Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji." (Surat Luqman ayat 26).
***

Ibadah puasa yang berperan mengubah "manusia biasa" menjadi "manusia muttaqin luar biasa" memberi inspirasi untuk mengubah warna putihnya kaligrafi إن الله هو الغني الحميد x 50x120 cm, acrylic on canvas, 2019) menjadi warna-warni. Putih artinya suci, melambangkan kesucian, tetapi statis dan datar. Biasa-biasa saja, tanpa dinamika.

Akhirnya, dengan menyalin Ramadhan yang dinamis dan kaya nuansa, saya olah kepada warna kuning emas (yang berarti agung, cerah, dan rezeki melimpah), merah (yang berarti berani), hijau (yang berarti subur makmur, harapan), biru (yang berarti anggun, berwibawa), dengan prioritas putih untuk selalu konsisten menjaga kesucian.

Melibatkan warna putih, kata Mohyeddin Tolu dalam kitabnya, Al-Lawn 'ilman wa 'amalan,  ada positifnya:

درجة اللون: Tint هى جعل اللون أكثر إضاءة پإضافة الأبيض له

Artinya, "Level warna (tint), yaitu membuat warna lebih bercahaya dengan menambahkan putih kepadanya."

Dalam kitabnya Color Harmony: A Guide to Creative Color Combination, Hideaki Chijiiwa menyimpulkan bahwa "memilih warna adalah seni" (choosing color is fun). Maka, lukisan yg diubah dari satu warna menjadi warna-warni menunjukkan kesempurnaannya karena, kata Mohyeddin lagi, telah menjadi tercakup dalam satu unit karakter warna (خواص اللون), yaitu: الشكل (hue/jenis-jenis warna), القيمة  (value/nilai), dan الكثافة (intensity/level olah). Walhasil, perubahan ke warna-warna beragam mengubah lukisan jadi lebih bagus dan artistik.

Oya, puasanya bagaimana?
Ramadhan maknanya pembakaran. Setelah "dibakar" untuk digembleng, ditempa, dan dilatih, para shaimin seharusnya berubah menjadi "manusia baru" yang lebih kuat menahan hawa nafsu, lebih giat qiyamul lail, lebih rajin membaca Al-Qur’an dan selalu siap mengamalkan isinya, dan tambah dermawan.

Tentu, semua pencapaian tersebut "harus dengan ilmunya " (فعليه بالعلم), karena puasa juga merupakan "ajang menuntut ilmu". Artinya, puasa tanpa ilmu hanya menghasilkan puasa minimalis, yakni "minimal tidak makan dan minum." Hanya itu. Ini berbahaya dan merugi karena akan distempel Nabi SAW dengan cap:

رب صائم: حظه من صيامه الجوع والعطش

Artinya, "Betapa kerap orang berpuasa: yang dia dapat dari puasanya hanyalah lapar dan haus," (HR Thabrani dari Sahabat Ibnu Umar RA).

Untuk berubah, dia harus nglakoni puasa maksimalis. Artinya, mengisi hari-hari puasanya dengan kegiatan amal saleh yang padat, siang-malam secara maksimal. Puasanya dilakoni dengan taktis alias dengan ilmunya, mengikuti tata cara dari Nabi SAW:

من صام رمضان وعرف حدوده وتحفظ مماكان ينبغى أن يتحفظ منه كفر ما قبله

Artinya, "Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan mengetahui batas aturannya serta menjaga apa-apa yang seharusnya dijaga, dia akan diampuni segala dosanya yang telah lalu," (HR Ahmad dan Baihaqi dari Sahabat Abu Said Al-Khudri RA).

Mustafa As-Siba'i dalam Hikmatus Shaum wa Falsafatuhu menyebutkan, shaimun yang benar akan memperbaiki apa-apa yang telah rusak, memperbaharui yang telah usang, bahkan sanggup mengobati segala sesuatu yang sakit karena "kekuatan mereka telah menyatu dengan kekuatan Tuhan."

Kalau boleh dibuatkan umpama untuk dicontoh, puasa yang bisa mengubah adalah puasa ulat, bukan puasa ular yang tidak membawa perubahan. Biar "kembali muda", ular harus puasa yang disusul proses ganti kulit dengan yang baru. Setelah itu? Tidak ada yang berubah. Namanya tetap ular. Tampang dan bentuknya seperti dulu. Cara jalannya masih sama. Makanannya kayak itu-itu saja. Bahkan, sifat dan kelakuannya tak berubah. Bila mematuk, ia bisa bikin kita celaka.

Berbeda nih dengan ulat. Biar "sakti mandraguna" (istilah puasanya: "menjadi orang bertakwa”), ulat harus puasa 40 hari (kayak hitungan shalat arba'in, hadits-hadits arbain, haji 40 hari). Segera saja terjadi perubahan-perubahan signifikan pada tubuhnya: terstruktur, sistematis, dan massif.

Di tengah-tengah tapanya, namanya segera berubah menjadi kepompong. Usai puasa, julukannya jadi kupu-kupu. Tampang dan bentuknya kini lebih cantik. Cara jalannya dulu merayap, sekarang terbang. Pilihan makanannya dari daun, pindah ke madu. Sifat dan kelakuannya? Subhanallah. Dia hobi membantu penyerbukan untuk proses pembuahan paling sempurna pada bunga yang manfaatnya dapat dipetik dan dirasakan berbagai kalangan.

Lukisan berubah warna tambah artistik. Ulat berubah jadi kupu-kupu semakin cantik. Dengan puasa, mukmin jadi orang bertakwa. Benar-benar asyiiik. Sungguh asyiiik.


Penulis adalah Pendiri Lembaga Kaligrafi (Lemka). Di samping mengajar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, kini ia mengasuh pesantren kaligrafi di Sukabumi.