::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Belas Kasih Rasulullah​ Ketika Lebaran

Jumat, 07 Juni 2019 09:30 Nasional

Bagikan

Belas Kasih Rasulullah​ Ketika Lebaran
Banyuwangi, NU Online
Islam demikian perhatikan kepada nasib fakir miskin dan anak-anak yatim. Bahkan yang menyia-nyiakan nasib anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada kaum miskin disebut mendustakan agama, sebagaimana dalam Al-Qur'an Surat Al-Maun.

Ustadz Ahmad, saat ceramah Idul Fitri di Masjid Baiturrahim, Desa Gambor, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Jawa Timur mengajak umat Islam menundukkan kepala, merenungi puasa yang sudah dijalani. Diajaknya jamaah untuk dapat berempati kepada para anak yatim yang ditinggal ayahnya, dan peduli kepada orang-orang miskin.

"Ujian bagi yatim dan miskin adalah dengan kesabaran. Ujian bagi yang kaya adalah syukur," ujarnya.

Dikatakan oleh Ustadz Ahmad, bahwa berlebaran itu harus peduli dan empati kepada sesama. Karena Lebaran bukanlah sekedar berbaju baru. Ia kemudian mengutip kisah lebaran Rasulullah dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Qolyubi.

Rasulullah, kata Ustadz Ahmad, keluar Shalat Idul Fitri. Kemudian, Rasulullah melihat beberapa anak bermain dan di antara mereka ada anak yang duduk di seberang dalam keadaan menangis. Kemudian Rasulullah menghampirinya."

"Hai, anak, mengapa kamu menangis dan tidak mau bermain dengan mereka?" tanya Rasulullah.

Ternyata anak yang sedang menangis itu adalah seorang yatim. Rasulullah kemudian berkata, "Maukah engkau menganggapku sebagai ayah, dan Aisyah sebagai ibu?"

Ustadz Ahmad meneruskan, anak itu mau dan kemudian diajak oleh Rasulullah ke rumah Nabi. "Oleh beliau anak itu diberi sebaik-baik baju, diberinya makan, dan agar ia senang. Anak yatim itu pun kemudian bergabung dengan anak-anak lainnya," kisahnya.

Anak-anak yang sedang bermain bertanya kepada sang yatim, "Kenapa tadi menangis dan sekarang bergembira?" Anak yatim itu pun menjawab, "Tadi saya lapar, sekarang saya sudah kenyang. Tadi saya belum berpakaian (pantas), sekarang saya berpakaian. Sebelumnya saya yatim, sekarang Rasulullah menjadi ayahku, Aisyah ibuku, Fathimah saudariku, dan Ali pamanku."

"Demikianlah rasa belas kasih yang dicontohkan oleh Rasulullah. Beliau sangat mencinta anak anak yatim dan mencintai orang-orang miskin," tegas Ustadz Ahmad. (Yusuf Suharto/Kendi Setiawan)