::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Lesbumi Bangkitkan Bahasa Asli Pekalongan Sebagai Identitas Daerah

Senin, 10 Juni 2019 18:00 Daerah

Bagikan

Lesbumi Bangkitkan Bahasa Asli Pekalongan Sebagai Identitas Daerah
Bupati Pekalongan, H Asif Kholbihi (baju putih)
Pekalongan, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah Eko Ahmadi berharap kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan serius untuk membangun tidak hanya infrastruktur fisik saja, akan tetapi juga infrastruktur budaya untuk meningkatkan karakter kebudayaan di Kabupaten Pekalongan.  

“Untuk bahasa, kita ingin mengembalikan bahasa asli Pekalongan sebagai identitas orang Pekalongan," ujarnya saat menggelar halal bi halal bersama 30 komunitas klub motor di bawah naungan Lesbumi dengan nama bikers bumi santri yang merupakan wadah para klub bikers yang ada di Kabupaten Pekalongan, Ahad (9/6).

Dikatakan, tanpa adanya bahasa Pekalongan kita nanti tidak ada identitas Pekalongannya, masa orang Pekalongan untuk komunikasi sehari-hari memakai bahasa indonesia, harusnya orang Pekalongan ngomongnya pakai bahasa Pekalongan. 

"Seperti bahasa daerah lain yang terus dilestarikan. Itu merupakan kearifan lokal yang akan membentuk karakter masyarakatnya supaya menjadi jiwa-jiwa yang sesuai para leluhur untuk menjadi manusia yang seutuhnya," papar Gus Eko pangggilan akrabnya.

Bupati Pekalongan H Asif Kholbihi menerangkan, di Kabupaten Pekalongan ada 3 wilayah yang memunculkan kerangka budaya yang beraneka ragam, ada wilayah pantai atau pesisir yang budayanya dipengaruhi oleh imigran dari negara lain, ada juga wilayah tengah kawasan sawah dan ladang untuk budaya lokal, dan juga wilayah atas atau pegunungan untuk akulturasi budaya.

"Wilayah Kabupaten Pekalongan sendiri sebenarnya kaya akan kesenian seperti kuntulan, kuda lumping, rebana berbagai variasi, dan berbagai seni tari," jelasnya. 

Dikatakan, dengan adanya Lesbumi, diharapkan bisa untuk menyatukan dan menguatkan subtansi budaya yang ada untuk tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam.

“Budaya dikembangkan untuk memupuk rasa saling menghargai dan rasa persatuan. Bagi saya budaya ini merupakan modal untuk pembangunan, karena jika membangun infrastruktur tanpa memperhatikan budaya nanti akan menghasilkan program yang egoistik, lain halnya dengan menggandeng budaya akan lebih arif dan lebih bijaksana,” ucap Bupati Asip.

Dijelaskan Eko, ke depan Lesbumi juga akan silaturahim ke para anggota dewan yang terpilih untuk mereview kembali apa yang pernah disampaikan dalam audiensi, tentang strategi kebudayaan dan program kebudayaan. "Semoga ke depan tidak hanya sekedar even saja tetapi ada juga pelatihan seperti literasi budaya, kemah budaya, sinematografi, dan  dokumentasi budaya audio visual tentang kebudayaan Pekalongan sehingga bisa menjawab tantangan zaman.

Dalam acara tersebut hadir selain Bupati Pekalongan H Asip Kholbihi dan juga Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan serta penampilan dari sanggar binaan yang berupa angklung, tari sintren santri dari sanggar mekar budaya Bojong dan tari sintren klasik dari sanggar windu aji Doro. (Muiz)