::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kearifan Lokal Itu Bernama Ziarah Kubur

Senin, 10 Juni 2019 21:00 Daerah

Bagikan

Kearifan Lokal Itu Bernama Ziarah Kubur
Jember, NU Online
Menjelang dan usai Idul Fitri, suasana pesarean atau makam leluhur kian ramai didatangi keluarga. Yang hadir tidak hanya kalangan tua, juga tidak sedikit mereka dari kalangan muda bahkan anak-anak.

“Kalau dalam istilah Jawa, ziarah kubur itu agar mereka tidak kepaten obor,” kata Rijal Mumazziq Z, Ahad (9/6).

Karenanya, orang Jawa menyarankan agar menzarahi pusara leluhur baik  orang tua, kakek, buyut, dan seterusnya. “Agar tahu asal dan jati diri,” jelasnya. 

Bulan perziarahan biasanya digelar pada Sya'ban, atau dalam kalender Jawa disebut Ruwah. “Konon, Ruwah berasal dari istilah arwah, jamaknya ruh,” ungkapnya.

Di bulan Ruwah, menjelang Ramadhan atau Sasi Poso, digelar tradisi Nyadran alias Sadran atau ziarah ke makam leluhur. “Yakni mendoakan arwah mereka sekaligus membersihkan pusaranya. Soal pusara alias makam, orang Jawa memang tidak bisa dipisahkan dari perkara ini,” kata Rektor Institut  Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah atau Inaifas, Kecong, Jember, Jawa Timur tersebut..

Soal makam leluhur, orang Jawa memang sensitif. “Di antara sebab musabab Perang Jawa adalah saat kompeni membangun jalan yang bakal melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro,” jelasnya. 

Provokasi terselubung dari kompeni ini jelas penghinaan. Demikian pula para korban pembangunan Waduk Kedungombo di tahun 1980-an. “Mereka enggan direlokasi karena, di antara alasannya, tidak mau berpisah dengan makam para leluhurnya,” katanya.

Ke manapun dan di manapun hidup, manakala pulang ke kampung kelahiran, seorang Jawa bisa langsung menziarahi pusara orangtua dan leluhurnya. “Semacam terjadi prinsip boomerang bahwa semakin keras dan jauh dilempar, semakin cepat berbalik,” paparnya. 

Bahkan, di antara yang dicurhatkan para eksil yang berdiaspora di Eropa pasca 1965, adalah kerinduan terhadap keluarga serta makam leluhurnya.

Kondisi ini juga dialami kalangan santri. “Makam guru menjadi penanda identitas asal keilmuan dan awal pembentukan karakter,” tandasnya. 

Sehingga, jika ada santri lalu hilang identitas kesantriannya, biasanya salah satu faktornya tidak pernah menziarahi pusara guru-gurunya. “Ibarat pasir, dia menjauh dari magnet lalu kehilangan daya tarik. Semakin menjauh, semakin melayang kena hempasan angin,” katanya member tamsil.

Oleh sebab itu kalau tetap ingin berada di poros yang telah digariskan oleh para guru, Rijal menyarankan jangan pernah lupa mengirim mereka, dan pilih waktu terbaik menziarahi pusaranya. “Mendekat dengan magnet kita, mendekat dengan cahaya, biar tidak kepaten obor,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)