::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Rais Aam PBNU: Syawal Bulan Peningkatan Ibadah

Senin, 10 Juni 2019 16:15 Nasional

Bagikan

Rais Aam PBNU: Syawal Bulan Peningkatan Ibadah
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengatakan setelah berlalunya bulan Ramadhan, umat Islam berjumpa dengan bulan Syawal. Jika pada Ramadhan menunaikan kewajiban berpuasa ditambah amal kebaikan dan ibadah sunah, maka pada Syawal adalah bulan untuk meningkatkannya. 

“Syawal itu rafa’a, bulan kenaikan, bulan yang banyak naiknya,” katanya kepada NU Online pada akhir Ramadhan lalu. 

Makanya, kata kiai asal Surabaya, Jawa Timur, ulama-ulama terdahulu sering mengadakan kenaikan kelas atau memulai ajaran baru pada bulan Syawal. 

Hal itu, lanjutnya, ada kesesuaian dengan arti kata Syawal yaitu bulan kenaikan tingkat.

Dengan demikian, simpulnya, memasuki bulan Syawal bukan malah mengendorkan ibadah, tapi melipatgandakannya. Semangat Ramadhan harus ditingkatkan, paling tidak dipertahankan.  

“Dalam sebuah syair dikatakan, ‘hai pelayan jasad sebelas bulan melayani jasad shingga kita lupa siapa kita. Dari barat ke timur, lebih banyak mengurusi jasad, urusan insaniyah kita kecil sekali, redup dan mungkin hilang',” katanya. 

Ia kembali menekankan, umat Islam harus memperbanyak ibadah dan amal kebaikan, jangan hanya pada bulan Ramadhan, tapi juga di bulan-bulan lain. 

“Artinya, semangat beribadah dan berbuat amal kebaikan sepanjang bulan, sepanjang tahun,” katanya. 

Menurut KH Miftah, seseorang yang berharap meraih lailatul qadr pada saat bulan Ramadhan harus melakukan persiapan sepanjang tahun, bahkan sepanjang hidupnya.  

Persiapan meraih lailatul qadar, lanjutnya, adalah dengan selalu melakukan dan meningkatkan amal giat dalam beribadah dan praktik keseharian dengan dipenuhi perilaku kebaikan.  

“Untuk meraih sesuatu yang istimewa, yang lebih baik dari seribu bulan, harus dilakukan persiapan yang sangat panjang. Ibarat sebuah pertandingan kelas internasional, persiapannya pun harus panjang, bukan persiapan yang setengah-setengah, apalagi di akhir bulan,” katanya.   

Menurut dia, di antara tanda-tanda orang yang berhasil meraih lailatul qadar adalah makin hari makin baik kehidupannya, terutama dalam ibadah dan amal kebaikannya, kewaspadaannya, dan lain-lain. 

“Sebagaimana haji mabrur, orang yang meraih lailatul qadar adalah orang yang kemudian menjadi lebih baik dari sebelumnya,” ungkapnya. (Abdullah Alawi)