::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengenal Udun-udunan sebagai Tradisi Menghidupkan Aswaja

Selasa, 11 Juni 2019 14:00 Daerah

Bagikan

Mengenal Udun-udunan sebagai Tradisi Menghidupkan Aswaja
Sragen, NU Online
Indonesia kaya dengan aneka kegiatan dalam menyambut peristiwa penting. Termasuk pada tradisi menyongsong Idul Fitri di sejumlah daerah, di antaranya yang ada di kawasan Desa Gondang Mayang, Jono, Tanon, Sragen, Jawa Tengah.

“Selang lima menit menit diumumkan oleh sesepuh dusun lewat pengeras suara, warga nampak berduyun-duyun datang ke mushalla dan masjid terdekat,” kata Muhammad Hanifuddin, Selasa (11/6).

Masing-masing membawa tampah yang berisi beragam rupa makanan. “Mulai dari nasi asahan, ketan jadah, sayur lodeh, apem, lauk pauk ikan, daging dan telur, hingga buah-buahan,” ungkap alumnus UIN Syarif Hidayatullah ini.

Setelah dirasa komplit hadir semua, sesepuh dusun lantas membuka acara. Diutarakan maksud dan niat. “Dilanjutkan dzikir tahlil bersama dan doa yang dipimpin oleh sesepuh desa yang lain,” jelasnya. 

Sedari menunggu waktu berbuka puasa, diisi ceramah agama. “Setelah suara adzan Maghrib bergema, mereka lantas bersantap buka puasa. Menikmati dan saling tukar tampah yang dibawa,” ungkapbya.

Itulah gambaran singkat tradisi udun-udunan di kawasan ini. “Kegiatan diadakan setiap hari terakhir bulan suci Ramadhan,” katanya. Hal tersebut tak jauh berbeda dengan tradisi di berbagai desa lain. 

Meskipun dengan nama dan tata cara yang sedikit berbeda. Dari tradisi ini, setidaknya ada dua hal menarik yang bisa dilihat.

“Pertama, dari perspektif kajian budaya atau cultural studies, tradisi di atas adalah bentuk akulturasi budaya lokal dan Islam,” urainya. 

Hingga akhir tahun 90-an, udun-udunan di Gondang Mayang tersebut masih belum menerima nilai Islam. “Praktiknya masih murni berupa pancen dan sesajen. Di titik inilah kepiawaian agamawan dan sesepuh dusun disinergikan,” ungkapnya. Meminjam istilah Clifford Geertz (1926-2006), keduanya merupakan cultural broker atau peramu dan mediator budaya, lanjutnya.

Kedua, dari kajian living sunnah. Melalui tradisi udun-udunan, masyarakat Muslim desa berupaya mengejawantahkan ajaran-ajaran kanjeng Nabi. 

“Mulai dari memperbanyak membaca al-Qur'an, dzikir, taklim, mengingat mati, sedekah, dan silaturahmi,” ungkapnya. 

Seluruh aktivitas tersebut tak perlu disebutkan dalilnya satu persatu. “Nilai-nilai ini merupakan ajaran shahih dalam riwayat-riwayat hadits,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi