::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Grebeg Syawal, Sarana Pendekar Pagar Nusa Warisi Ilmu Sunan Kalijaga

Rabu, 12 Juni 2019 21:00 Daerah

Bagikan

Grebeg Syawal, Sarana Pendekar Pagar Nusa Warisi Ilmu Sunan Kalijaga
Grebeg Syawal

Klaten, NU Online
Memakai pakaian serba hitam, bersabuk hijau dengan balutan jarik dan ikat kepala, sejumlah pendekar Pagar Nusa mengarak gunungan ketupat acara kirab dalam rangka Grebeg Syawalan Ke-Pitu, di daerah Jimbung, Kalikotes, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (11/6).

Kurang lebih 6 kilometer kirab ini dilaksanakan. Terlihat ada yang mengangkat tandu gunungan, memainkan hadrah dan sisanya ikut mengiring gunungan di belakangnya. Selain pendekar Pagar Nusa, kirab ini juga diikuti oleh abdi dalem lain yang ikut membawa tombak, bendera panji Jabal Ahad, payung dan wayang tokoh Semar.

Rute kirab dimulai dari kediaman Ki Joko Jos Gandos menyusuri jalan menuju komplek pemakaman Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan berlanjut hingga ke Sendang Jimbung. Di Sendang Jimbung dilakukan prosesi doa bersama dan sebar gunungan ketupat. Selepas itu arak-arakan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kediaman Ki Joko.

“Kirab budaya ini wujudnya ziarah kubur dan sebar kupat di Jimbung, ziarah dilakukan di makam Eyang Panembahan Agung, Eyang Panembahan Romo, kemudian menuju gua Jimbung, di sana ditemui bulus jantan yaitu Eyang Kyai Sedowigura dan kemudian dikenal dengan Kyai Poleng, dan yang betina dikenal dengan Nyai Remeng. Daerah itu dinamai Jimbung karena terdapat makam Putri Jimbung,” kata Ki Joko tentang acara grebeg pertama kalinya di daerah Jimbung ini.

Ki Joko mengajak masyarakat Jawa untuk tetap menjaga kebudayaan, karakter serta menjiwai Jawa meskipun telah mempelajari kebudayaan lain. Hal ini sesuai dengan kata bijak “Ojo ninggalne Jowo ! Tetep dadi wong Jowo masio nggarap seng liyo.” (Jangan meninggalkan Jawa. Tetaplah jadi orang Jawa walau mempelajari yang lainnya).

“Untuk disini, kegiatan baru diselenggarakan pertama kali, kelak akan berlangsung sampai terus, turun menurun. Kegiatan ini memang kegiatan yang berpindah-pindah, seperti kemarin dilaksanakan di Eyang Pandanaran, kemudian pindah di sini dan besok juga akan pindah lagi,” tutur Ki Joko yang merupakan Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sekaligus Pangarsa Abdi Dalem Tembayatan 1, 2, dan 3.

Pada rangkaian kegiatan yang berlangsung dari pukul 14.30-17.00 WIB para pendekar Pagar Nusa khususnya dari Padepokan Jabal Ahad memanfaatkan momen ini sebagai sarana mempelajari dan lebih dekat dengan budaya. Semangat hubbul wathan yang tertuang dalam keikutsertaan mereka dikirab budaya ini merupakan wujud cintanya pula pada ajaran Wali Songo.

Nderek koyok ngene iki (Kirab Grebeg Syawal) dadi ngilmu. Kanjeng Sunan Kalijogo niku nasehate namung sederhana “yo tutno aku yen kowe ketemu ngilmumu”. (Kamu ikut jalan di kirab tadi adalah laku nyata, laku prihatinmu untuk mencari ilmu),” pesan Ki Joko yang juga merupakan juru kunci Jimbung kepada puluhan pendekar Pagar Nusa yang hadir. (Arindya/Muhammad Faizin)