::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika 1001 Ketupat Diarak Keliling Desa

Sabtu, 15 Juni 2019 01:00 Daerah

Bagikan

Ketika 1001 Ketupat Diarak Keliling Desa
Arak-arakan 1001 ketupat di Ponorogo
Ponorogo, NU Online
Menandai Lebaran Ketupat 1440 Hijriah, warga Desa Kalimalang, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, Jawa Timur berkeliling desa. Puluhan dadak merak dan 1001 ketupat yang dibentuk buceng (tumpeng) setinggi tiga meter disertakan dalam arak-arakan ini.

Setelah berkeliling desa dan tiba di tujuan akhir, ribuan ketupat tersebut didoakan oleh sesepuh desa, kemudian dibagikan kepada warga. Warga kemudian menyantap ketupat tersebut dengan sayur dan lauk pauk yang juga telah disiapkan.

Dalam tayangan Tradisi Arak 1001 dan Reog Keliling Kampung, disebutkan bahwa tradisi tersebut merupakan tradisi tahunan yang digelar warga sebagai penutupan Hari Raya Idul Fitri yang ada di desa setempat. 

"Karena kita telah melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh dan di hari kemenangan ini kita mengumpulkan warga lewat acara ini yaitu untuk menumbuhkan rasa kebersamaan. Istilahnya masyarakat yang ada perbedaan atau apa, kita punya satu tujuan yaitu kebersamaan untuk membangun desa," kata Kepala Desa Kalimalang, Riyadi.
 
Pihaknya menegaskan kegiatan tersebut akan terus dilakukan setiap tahunnya oleh warga desa. Selain sebagai pelestarian budaya peninggalan nenek moyang, kegiatan dilakukan agar kerukunan warga terus terjaga.

Kenduri Ketupat di Salamrojo

Di Nganjuk, tepatnya di Desa Salamrojo, Kecamatan Berebek, mengisi Hari Lebaran Ketupat, warga desa berdatangan ke mushala dengan membawa ketupat dan lepet dan makanan lainnya. Kedatangan mereka untuk melaksanakan Tahlil dan kirim doa kepada leluhur.

Muhammad Mizan Syaironi, tokoh masyarakat setempat mengatakan, tradisi ini dilakukan sebagai rasa syukur setelah warga melaksananan puasa enam hari di bulan Syawal. Kegiatan dinilai baik, karena warga dapat melakukan sedekah.

Ia menyebutkan, dalam agama Islam diterangkan bagi yang menjalankan puasa Ramadhan lalu puasa enam hari, pahalanya akan dilipatgandakan seperti menjalankan puasa setahun penuh. Warga desa menggunakan ketupat yag diadopsi dari Bahasa Arab, kaffah yang berarti sempurna atau sudah cukup. Sedangkan lepet dari bahasa Jawa artinya mengakui kesalahan.

Dengan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, kemudian disusul puasa Syawal dan saling memaafkan, juga bentuk sempurnanya seorang Muslim dalam habluminallah dan habluminanas. Habluminallah lewat puasa Ramadhan diharapkan sudah diampuni karena mendapatkan maghfirrah atau ampunan Allah, dan habluminnas karena saling memaafkan sesama warga. (Kendi Setiawan)