::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

MENENGOK GELIAT MADRASAH NU DI PERTH, AUSTRALIA (2-HABIS)

Demi Pengabdian, Staf dan Guru Rela Tak Dibayar

Ahad, 16 Juni 2019 08:30 Internasional

Bagikan

Demi Pengabdian, Staf dan Guru Rela Tak Dibayar
Sesekali, Madrasah Darul Ma'arif mengundang muballigh dari Jakarta seperti Cak Nun

Australia, NU Online
Mendirikan madrasah di mancanegara tidaklah mudah. Pasalnya, selain mengantongi izin dari pemerintah setempat, juga memerlukan dana, dan tenaga yang tak sedikit. Sebagaimana sekolah pada umumnya, tempat menjadi hal wajib disediakan dalam proses belajar-mengajar. Untungnya, para kader Nahdlatul Ulama di Perth, Western Australia ringan tangan. Mereka urunan untuk menyewa tempat atau gedung bagi murid-murid Madrasah Darul Ma’arif. Tempatnya cukup srategis, yaitu di Kenwick Community Center yang terletak di Suburb Kenwick, City of Gosnells, Western Australia.

“Awalnya memang urunan untuk sewa gedung, selanjutnya kita ambil dari infaq murid,” tukas Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Australia bagian Perth, Western Australia, Anshori Husnur Rafiq sebagaimana rilis yang diterima NU Online, Sabtu (15/6).

Memang, murid-murid ditarik infaq sebesar 10 dolar setiap bulannya. Dari infaq itulah ditambah infaq sebagian guru dan wali murid, madrasah itu berjalan hingga saat ini. Jumlah muridnya hingga saat ini mencapai 106 orang. Mereka sebagian adalah anak warga Indonesia yang menetap di sana,  anak keluarga campuran, bahkan ada anak orang Lebanon, Pakistan, Singapore, Malaysia, dan Rohingya.

“Jumlah guru dan staf adalah 22 orang. Demi pengabdian pada agama, mereka semuanya adalah voulenteer (sukarelawan), tanpa gaji,” terangnya.

Anshori mengaku senang bisa mendirikan madrasah di lingkungannya. Selain ingin menanamkan Islam ala Ahlissunnah wal jamaah (Aswaja), juga sekaligus untuk menghadang laju gerakan kelompok radikal yang mulai masuk Australia. Dikatakannya, sejumlah penceramah dari Jakarta tak jarang mengisi pengajian di sejumlah tempat Australia. Namun sayang dalam ceramahnya terkadang dia dengan seenaknya  menuding amalan itu bid’ah, haram dan sebagainya.

“Itu ceramah tidak kondusif, cenderung provokatif. Maka madrasah  ini juga berfungsi sebagai pencerah,” pungkasnya. (Red: Aryudi AR).