::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KIS-JKN, Harapan Kesehatan Nahdliyin di Bondowoso

Ahad, 16 Juni 2019 09:00 Daerah

Bagikan

KIS-JKN, Harapan Kesehatan Nahdliyin di Bondowoso
Sejumlah kartu untuk masyarakat. (dok. harian pilar)
Bondowoso, NU Online
Banyak warga yang menerima manfaat dari keberadaan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dengan kartu tersebut, mereka bisa mendapatkan layanan kesehatan secara baik, tanpa harus mengeluarkan biaya.

Karena itu Klinik Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur melakukan kerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BJPS).  Lewat kebersamaan tersebut, klinik melayani pasien KIS-JKN ataupun pasien mandiri semenjak dua tahun lalu.

“Dalam fasilitas kesehatan dan tenaga medis, kami komitmen melayani pasien  pemegang kartu KIS-JKN,” kata penanggung jawab Klinik RSNU Bondowoso  Mochammad Yasin, Sabtu (15/6).

Menurutnya, klinik kebanggaan warga sekitar dan Nahdliyin tersebut tidak pernah mempermasalahkan peserta dari mana dan dari mana. “Asalkan peserta KIS-JKN, kita rawat di tempat dan kita bebaskan rawat jalannya," jelasnya.

Dalam praktiknya, pasien yang datang terlebih awal diperiksa di Unit Gawat Darurat (UGD), atau rawat jalan. “Kalau lewat pemeriksaan harus rawat inap, maka akan dirawat inap, demikian juga bila rawat jalan,” jelasnya. 
Layanan dasar tersebut menjadi standar layanan ketika pasien pertama berada di klinik. “Baik pasien pemegang kartu KIS-JKN maupun umum, standarnya demikian," katanya.

Layanan awal tersebut tidak dikenakan biaya. “Mereka yang tidak mampu dan tidak memiliki kartu KIS-JKN sekalipun dilayani dengan gratis, mulai dari UGD, hingga rawat jalan,” ungkapnya.

Dengan demikian, yang sudah menikmati pelayan di tempat kita, tidak hanya yang pemilik kartu KIS-JKN, juga pasien mandiri dan Askes," terangnya.

Menurutnya, saat ini setidaknya ada 70 peserta yang terdaftar untuk rawat jalan. “Sedangkan kita membutuhkan idealnya sebanyak tiga ribu peserta," ungkapnya. Sehingga dengan demikian lebih leluasa memberikan pelayanan kepada masyarakat, lanjutnya.

Selama menerima pasien KIS-JKN dan pasien umum, klinik berupaya memberikan pelayanan secara optimal. “Kita mengedepankan kejujuran dalam memberikan pelayanan, artinya disampaikan kepada pasien terkait apa yang akan dilakukan klinik. Termasuk jika klinik tidak mampu melakukan tindakan medis, turut disampaikan secara terbuka,” terangnya. Mengapa hal ini dilakukan, karena pada prinsipnya semua pasien harus bisa mendapat pelayanan yang  terbaik dari tenaga kesehatan yang ada, lanjutnya.

Dengan layanan yang demikian prima dan mengedepankan kepuasan pasien secara terbuka, tidak sedikit yang lebih memiliki Klinik RSNU. “Bahkan ada juga yang awalnya dirawat di salah satu rumah sakit di kawasan Bondowoso dengan fasilitas VIP, akhirnya lebih memilih layanan kami,” bangganya.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa pelayanan harus demikian tulus dan profesional. "Bila dilayani dengan baik, maka akan semakin banyak pasien yang menerima manfaat. Pada saat yang sama pasti layanan tersebut akan diwartakan kepada keluarga dan kalangan lain,” urainya.

Karenanya klinik ini bisa berkembang dan menjadi kebanggaan. Juga yang tidak kalah penting adalah bahwa keberadaannya mampu memberikan manfaat kepada warga sekitar, khususnya nahdliyin.

“Karenanya kami berharap kepada seluruh masyarakat Bondowoso, seluruh pengurus NU dari tingkatan PCNU, MWCNU sampai rantingnya mau berbondong-bondong dan ikut mendorong, bergabung di tempat kita menjadi peserta BPJS yang memilih faskesnya di tempat kita,” ajaknya.

Dengan demikian manfaat dari klinik bisa dirasakan sejumlah kalangan. "Sehingga kita bisa menghidupi rumah sakit ini dengan lebih baik, mampu memberikan pelayanan dengan lebih baik dan cita-cita para pendiri dan kiai,” harapnya. 

Harapan Itu Bernama KIS-JKS
Salah seorang pemegang karrtu JKN-KIS di Bondowoso, Robbica Sastra Dijaya mengemukakan sangat menikmati layanan kesehatan yang dirasakan di Klinik RSNU.

Warga Desa Lojajar RT 02 RW 01Kecamatan Tenggarang ini mengatakan, selama ini manfaat menjadi peserta KIS-JKN dapat meringankan biaya pengobatan, sehingga mempermudah untuk mengatasi masalah kesehatan pasien.

"Selama ini pernah saya gunakan kartu JKN BPJS mandiri untuk pemeriksaan faskes tingkat pertama," jelasnya. 
Kartu BPJS mandiri JKN digunakan untuk memeriksakan anak pertama. “Selain berguna untuk pemeriksaan, juga berfungsi melanjutkan pemeriksaan untuk dirujuk ke spesialis di rumah sakit zona terdekat,” akunya.

Dirinya bersyukur selama menjadi peserta JKN tidak mendapatkan masalah berarti. “Kendala seperti administrasi, biaya dan pengobatan justru teratasi dengan baik di klinik RSNU Bondowoso ini," bangganya.

Hal sama juga dirasakan Bani Istu, pemilik kartu KIS dari Desa Kajar RT 12 RW 4 Kecamatan Tengarang yang mempunyai kartu KIS untuk seluruh keluarga yakni suami dan anaknya.

"Salama ini saya berobat di RSUD Bondowoso,” katanya.

Pengalaman yang tidak terlupakan adalah saat berobat lebih tepatnya operasi tumor di punggung, "Alhamdulillah pada waktu itu pakai kartu KIS dan tidak ada biaya sama sekali,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan KIS-JKN sebagai solusi atas masalah kesehatan yang diderita masyarakat, khususnya kalangan yang tidak mampu. “Saat mendapatkan keluhan kesehatan senang-senang susah,” katanya.

Dikatakan senang karena dipastikan dengan membawa KIS-JKN tidak ada pembiayaan. “Susah juga kalau tahu ternyata ada keluhan kesehatan pada diri sehingga terbayang punya masalah kesehatan,” tandasnya.

Setiap orang tentu saja ingin selalu sehat. Karena bagaimanapun juga sakit akan menyiksa tidak hanya diri, juga orang sekitar. “Namun ketika sakit dan memiliki KIS-JKS, maka masalah pembiayaan tidak menjadi kendala,” jelasnya.

Karena itu dirinya berharap program tersebut dapat terus berjalan dan ditingkatkan. “Agar masyarakat Indonesia di sejumlah daerah bisa mendapatkan layanan kesehatan terbaik,” pungkasnya. (Ade Nurwahyudi/Ibnu Nawawi).