::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Lalai Berdzikir, Setan Akan Menancap dalam Hati

Ahad, 16 Juni 2019 12:00 Daerah

Bagikan

Lalai Berdzikir, Setan Akan Menancap dalam Hati
Pontianak, NU Online
Manusia hendaknya terus menghadirkan Allah SWT. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan kerap berdzikir atau ingat kepada-Nya. Karena bila sampai lalai, maka akibatnya diri akan dikuasai oleh setan dengan perilaku negatif.

Penegasan ini disampaikan H Syarif yang menjadi narasumber acara 'Halal bi Halal, Syukuran dan Dzikir Kebangsaan bersama KH Mansyur Syihab'. Kegiatan berlangsung di aula Pondok Pesantren Nahdlatus Syubban, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (15/6).

Menurut H Syarif, bahwa penyakit hati yang diakibatkan lalai dalam berdzikir akan menimbulkan sifat ego dan amarah yang menggebu-gebu. Oleh sebab itu, diupayakan untuk terus mengendalikan diri dengan cara menghadikan Allah SWT dalam setiap desahan napas.

Akibat mereka yang kerap melupakan Allah, akan berujung pada perilaku yang tidak terpuji. “Seperti sifat ujub yakni takjub akan dirinya, takabur, riya dan semacamnya,” kata Rektor IAIN Pontianak tersebut.

Menurutnya, posisi dzikir sangatlah penting dalam perjalanan hidup. “Karena jika ada orang yang lalai berdzkir kepada Tuhannya sedetik saja, maka setan akan menancap di hati,” pesannya.

Kegiatan diisi pembacaan dzikir kebangsaan yang dipimpin langsung oleh KH Mansyur Syihab. Sedangkan Bambang Saputra menyampaikan fadilah dan keutamaan dzikir  “Bahwa tidak ada yang bisa kita andalkan di hadapan Allah SWT kecuali dengan dzikir,” jelasnya.

Bahkan dalam pandangannya, amal ibadah hendaknya diawali dengan dzikir yakni menghadirkan Allah SWT. “Jangan pernah menanyakan apa manfaat berdzikir, karena sesuatu yang disenangi Allah dan Rasulnya juga akan jadi rahasia,” ungkapnya.

Menurut guru besar IAIN Pontianak tersebut, kondisi dan situasi bangsa Indonesia saat ini bahwa banyak hal yang terjadi. “Tapi sampai hari ini masih bisa diatasi, itu karena kita sebagai warga negara masih taat, masih ingat akan masa depan negeri ini,” katanya.

Dirinya juga berpesan bahwa antar umat beragama jangan saling menyudutkan kendati memiliki perbedaan. “Berbeda pendapat boleh, tapi bertengkar jangan,” tandasnya.

Kegiatan ini dihadiri H Syarif selaku Rektor IAIN Pontianak, Bambang Saputra. H Syaifudin Herlambang selaku Ketua PCNU Kota Pontianak dan undangan. (Ibnu Nawawi)