::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Lidah Jangan Disibukkan dengan Mengumpat

Ahad, 16 Juni 2019 11:00 Daerah

Bagikan

Lidah Jangan Disibukkan dengan Mengumpat

Jember, NU Online
Masyarakat diharapkan tidak terseret dalam pusaran konflik Pilpres dan tidak ikut-ikutan mencari-cari kesalahan orang lain. Sebab mencari-cari kesalahan orang lain bukan watak umat Islam. Demikian diungkapkan oleh Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Jember, Kiai Muhammad Syukri Rifa’ie saat memberikan tausiyah dalam Halal Bi Halal Majelis Wakil Cabang Sukorambi di kantor MWCNU Sukorambi, Sabtu (15/6).

Menurutnya, soal sidang sengketa Pilpres di Mahkamah Kostitusi (MK), biarlah menjadi urusan para elit di Jakarta. Masyarakat awam tak perlu ikut memikirkan itu karena masing-masing punnya tugas dan kesibukan sendiri di rumah.

“Kita berdoa saja agar hakim MK diberi kekuatan oleh Allah untuk memutuskan perkara seadil-adilnya. Kita sudah berikhtiar untuk memilih pemimpin terbaik, maka siapapun yang dilantik, kita tak boleh ragu  dialah jawaban Allah atas ikhtiar kita” tukasnya.

Lebh jauh, Kiai Syukri mengimbau agar masyarakat menghindari sikap-sikap tercela semisal mencari-cari kesalahan orang lain, mengumpat penguasa, dan sebagainya. Justru di hari lebaran ini, umat Islam dituntut melebur dosa, dan bermaaf-maafan atas dosa dan kesalahan yang ada.

“Jadi mari momentum lebaran ini kita jadikan ajang untuk membersihkan dosa dengan cara bermaaf-maafan dengan ikhlas,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa di masa Nabi Muhammad swt, bahkan jauh sebelumnya Allah sudah melarang manusia untuk menyibukkan lisan mereka dengan mencaci dan mengumpat penguasa. Sebab hati penguasa  dalam genggaman Allah.

”Maka jauhilah saling mengumpat, apalagi kepada penguasa,” ucapnya.

Kiai Syukri juga mengingatkan, ketika terjadi ketidak adilan dan kedzaliman dari penguasa, maka itu tak lain merupakan buah kedzaliman kita sebagai umat. Allah mengultimatum  dengan firman-Nya  dalam Al-Qur'an: Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan.

Oleh karena itu, Kiai Syukri  berpesan agar manusia tak perlu menyibukkan lidahnya dengan mengumpat, mencela, dan berghiba. Tak elok juga jika  otak dipakai untuk mencari kelemahan dan kesalahan orang lain.

“Sebab semuanya akan kembali kepada yang bersangkutan,” pungkasnya. (Aryudi AR).