::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Rahasia Para Ulama ketika Menulis Kitab dan Buku

Senin, 17 Juni 2019 14:00 Nasional

Bagikan

Rahasia Para Ulama ketika Menulis Kitab dan Buku
Ilustrasi (ist)
Jakarta, NU Online
Menulis buku dan kitab merupakan salah satu upaya intelektual dari para ulama terdahulu. Hal itu dilakukan dalam rangka mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi selanjutnya. Namun sebelum menulis, mereka kerap melakukan ikhtiar batin di samping istiqomah dalam waktu-waktu tertentu.

Terkait ikhtiar para ulama dalam menulis ini, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim menjelaskan bahwa ulama-ulama dulu menjadi pengarang-pengarang hebat di usia muda.

Kiai Luqman tak bisa membayangkan di tengah aktivitas mengajar mereka, masih sempat menulis ratusan kitab bahkan ada yang ribuan.

“Nah generasi sekarang baca kitab saja nggak bisa sudah jadi ustadz mendadak. Malunya sampai ke akhirat,” ungkapnya dikutip NU Online, Senin (17/6) lewat twitternya.

Sehari bisa menulis 6000 kata, selama 2 bulan, anda akan menjadi penulis, pengarang. Kalimat itu selalu terngiang ktk latihan Jurnalistik 35 tahun silam. 100 orang yg ikut pelatihan hanya 2 orang yg berhasil Istiqomah selama dua bulan. Selebihnya satu minggu bablas.

Menurut penulis buku Psikologi Sufi ini, dalam konteks saat ini, mengarang akan memerdekakan seseorang dari wacana hoaks, nyinyir, fitnah, dan pikiran busuk (suudzon).

“Karena dipastikan Anda akan lebih banyak baca buku dan kitab-kitab, berdiskusi dan pena anda akan semakin tajam, indah, waras. Jangan memulai mengarang dengan menunggu selesainya problema. Itu nafsu saja,” jelas Direktur Sufi Center ini.

Ia mengisahkan tentang KH Wahid Hasyim, seorang kutu buku. Jika kantuk beliau menyelam ke kolam, langsung baca, menulis. KH Bisri Mustofa (ayah Gus Mus) mengarang sambil temui tamu.

“Prof Hasbi Asshhiddiqi, habis subuh sampai pukul 7 pagi full di depan mesin ketik. Prof Quraish Shihab habis subuh sampai pukul 8 pagi. Istiqomah,” terangnya mencontohkan.

Kiai Luqman memberi resep, diusahakan sehari bisa menulis 6000 kata, selama 2 bulan, seseorang akan menjadi penulis, pengarang. Pelajaran itulah yang ia dapatkan ketika mengikuti latihan Jurnalistik 35 tahun silam.

100 orang yang ikut pelatihan, katanya, hanya dua orang yang berhasil Istiqomah selama dua bulan. Selebihnya satu minggu bablas.

“Usahakan kalau Anda mengarang punya wudhu, berdoa, apalagi sholat dulu. Syukur Anda bisa mengarang sembari hati Anda berdzikir. Insyaallah tulisan Anda dilimpahi Cahaya oleh Allah SWT, bermanfaat bagi umat manusia,” tandas Kiai Luqman. (Fathoni)