::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Cara Bersikap saat Doa Tak Kunjung Terkabul

Senin, 17 Juni 2019 20:30 Doa

Bagikan

Cara Bersikap saat Doa Tak Kunjung Terkabul
Ilustrasi (123rf.com)
Dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi memberi peringatan untuk para pendoa, bahwa mereka harus menguatkan pengharapan mereka kepada Allah (an yuqawiyya rajâ’ahu fi maulâhu) dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya (lâ yaqnathu min rahmatillah), apalagi jika doanya dirasa tak kunjung dikabulkan. Ia mengatakan:

وإن تأخرت الإجابة فلا تستبطئ ما سألت، فإن لكلّ شيء أجلا، والدعاء لا يغلب ما سبق في المعلوم

Andai doa tak kunjung dikabulkan, janganlah kau menangguhkan (mengendurkan) apa yang yang kau minta. Karena sesungguhnya di setiap hal ada waktunya, dan doa tidak (bisa) menyelisihi apa yang telah ditentukan sebelumnya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 20)

Artinya, setiap doa memiliki waktunya sendiri-sendiri. Kita hanya bisa meminta. Soal kapan dan bagaimana bentuk pengabulannya, kita harus berpasrah diri kepada Allah. Karena Dialah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita. Yang perlu kita lakukan adalah melapangkan hati kita, menyerahkan segalanya, tidak terburu-buru menuntut pengabulannya, tidak berputus asa dari rahmat-Nya, dan tetap yakin Allah pasti mengabulkannya (husnudhan). 

Dalam kitab yang sama, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mengutip beberapa riwayat tentang pentingnya keyakinan penuh dalam berdoa, dan jangan terburu-buru menyimpulkan ketika doa tak kungjung dikabulkan. Riwayat yang pertama dikutip dari Imam Malik bin Anas dalam al-Muwaththâ. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يقل الداعي في دعائه: اللهم ارحمني إن شئت، ليعزم المسألة، فإنه لا مكره له

Janganlah orang yang berdoa mengatakan dalam doanya: Ya Allah rahmatilah aku jika Engkau berkenan. Hendaklah ia memohon dengan penuh harap, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa memaksa-Nya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 20)

Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menjelaskan riwayat di atas dengan mengatakan:

يعني أن الله تعالي لا يُكره علي الإعطاء، فإن شاء أعطي وإن شاء منع

Yakni sesungguhnya Allah tidak benci untuk memberi. Jika Dia menghendaki, Dia memberi. Jika Dia menghendaki, Dia mencegah (tidak memberi).” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 20)

Inilah maksud tidak ada yang bisa memaksa-Nya. Karena Allah berhak mengabulkan doa makhluk-Nya dengan cara-Nya sendiri.

Riwayat yang kedua dikutip dari Imam al-Bukhari dan Imam Abu Dawud, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يستجاب لأحدكم ما لم يعجل، فيقول: قد دعوت فلم يستجب لي

Akan dikabulkan (doa) salah seorang di antara kalian selama ia tidak tergesa-gesa (menuntut pengabulannya), sampai ia berkata: ‘Sungguh aku telah berdoa, namun belum juga dikabulkan untukku.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 20)

Hadits di atas menunjukkan pentingnya bersabar dalam berdoa. Sebab, dengan mengatakan, “aku telah berdoa, namun belum juga dikabulkan untukku”, secara tidak langsung telah berprasangka buruk kepada Allah, dan menunjukkan ketidak-yakinan bahwa doanya akan terkabul. Jadi, sikap yang harus ditunjukkan adalah bersabar, berprasangka baik kepada Allah dan berkeyakinan penuh Allah akan mengabulkannya.

Yang terpenting adalah, jangan sekali-kali kita menampakkan sikap tak percaya dan mengeluhkan Tuhan yang tak kunjung mengabulkan doa kita. Karena pengabulan doa memiliki banyak ragam. Bisa jadi ditunda; bisa jadi dipercepat; bisa jadi diganti dengan yang lebih baik sebagai anugerah, atau diganti yang lebih ringan sebagai ujian. Bayangkan saja jika semua doa dikabulkan seketika, dunia akan terlihat berbeda. Karena semua orang menghasrati keinginannya sendiri-sendiri. Di samping keinginan juga bermacam-macam wajahnya. 

Contohnya, di satu sisi ada keinginan seorang perampok agar selalu berhasil merampok; penjudi agar selalu menang; koruptor agar selalu selamat berkorupsi; pelacur agar selalu laris dan keinginan-keinginan sejenis lainnya. Di sisi lain, ada keinginan seorang polisi agar berhasil menangkap perampok; santri agar orang-orang terdekatnya menjauhi perjudian; penegak hukum agar koruptor habis, dan keinginan-keinginan sejenis lainnya. Artinya, ada silang keinginan yang satu sama lainnya saling berhadapan. 

Oleh sebab itu, semua doa, meski dijamin pengabulannya, tidak bisa lepas dari ketetapan Allah. Di sinilah pentingnya bagaimana kita bersikap ketika “merasa” doa kita tidak kunjung dikabulkan.

Di sisi lain, banyak manusia yang tidak mampu mengenali terkabulnya doa. Mereka menganggap doanya tidak pernah dikabulkan. Padahal, jika mereka melihat ke dalam diri dan sekitarnya, mereka akan menemukan begitu banyak wujud pengabulan doa, terutama anugerah yang mereka terima tanpa mereka pernah memintanya sama sekali. 

Itu artinya, kita kurang bersyukur atas semua anugerah yang kita terima, tapi kita selalu menuntut hal lain yang mungkin kita akan lalai mensyukurinya kembali ketika tuntutan itu terpenuhi. Jadi, sebelum mengeluhkan doa yang tak kunjung terkabul, kita harus memeriksa diri kita terlebih dahulu, apakah kita telah cukup bersabar dan bersyukur atas semua ujian dan anugerah yang Allah berikan, sehingga kita tidak akan pernah meragukan Allah dan berkata: “Sesungguhnya aku telah berdoa, namun belum juga dikabulkan.” Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.