::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Tukang Sapu Mendapatkan 99 Keping Emas

Selasa, 18 Juni 2019 09:00 Hikmah

Bagikan

Kisah Tukang Sapu Mendapatkan 99 Keping Emas
Ilustrasi (via 22d.info)
Alkisah, ada seorang raja yang mempunyai pola tidur tidak baik. Ia sendiri tidak tahu pasti apa sebabnya. Kebutuhan hidup dari sisi materi selalu tercukupi, bahkan bisa dikatakan hartanya melebihi kebutuhan hidupnya. Tapi aneh, sang raja tidak bisa tidur pulas melewati malam-malamnya. 

Pada satu saat, di tengah kegelisah malam sang raja, kedua kelopak matanya menatap luar jendela ruangannya. Di luar sana, tampak tukang sapu sedang menikmati pekerjaannya. Ia pungut sampah-sampah yang terserak di lingkungan istana. Menurut pandangan raja, tukang sapu ini seolah tak punya beban apa-apa walaupun kehidupannya tidak bergelimang harta. Sedangkan raja sendiri merasa belum bisa mendapatkan kenyamanan hidup sebagaimana yang dirasakan oleh salah satu pembantunya itu. 

Tiba-tiba sang raja ingin membahagiakan Pak Tukang Sapu. Atas pemberian itu, raja berharap barangkali bisa menjadikan orang tersebut tambah gembira berkat ketulusan kerjanya. Raja memberikan hadiah 100 keping emas kepada tukang sapu melalui ajudannya. 

Dengan terbungkus rapi, ajudan raja memberikan benda yang telah diamanatkan kepadanya. Setelah hadiah diterima tukang sapu, sang ajudan segera undur diri dan baru kemudian tukang sapu menghitungnya. 

Malang, setelah ia membuka bungkus pemberian raja, betapa terkejutnya. Kepingan emas yang ia hitung berulang kali itu hanya berjumlah 99 keping. Menurutnya, tidak mungkin ada raja memberikan satu hal dengan hitungan ganjil seperti yang ia alami. Hatinya galau. Tukang sapu mencari ke sana kemari kekurangan satu keping dan sampai beberapa hari belum kunjung ditemukan. 

Tukang sapu tidak bisa memastikan kurang atau hilangnya emas yang satu keping pada pemberian raja tersebut. Satu keping emas hilang entah saat di tangan siapa. Rajanya salah hitung? Atau ajudannya tidak amanah?, Atau mungkin di tangan ia sendiri sesaat sebelum ia menghitung itu ada yang tercecer hilang? Hatinya semakin dirundung kesusahan yang tidak kunjung hilang sampai menyebabkan tukang sapu tidak kembali tampak masuk kerja. 

Sang raja juga mendapati sedikit keanehan. Sejak ia memberikan kepingan emas melalui ajudan, tukang sapu yang satu tersebut menjadi tidak tampak lagi bekerja. Raja menelisik apa yang melanda si tukang sapu tersebut melalui ajudannya. 

“Ada apa dengan tukang sapu yang kemarin kamu kasih 100 keping emas itu sehingga ia beberapa hari ini tidak tampak masuk kerja?" tanya raja kepada ajudan. 

“Maaf, Baginda. Hamba kemarin ingin menguji tukang sapu tersebut. Dari 100 keping yang diberikan Baginda, ada satu keping yang kami simpan sementara. Hal ini hanya dalam rangka untuk mengujinya," kata ajudan. 

Namun, lanjut ajudan, tukang sapu itu sampai hari ini malah hari-harinya dihabiskan untuk mencari satu yang hilang. Ia tidak mensyukuri 99 keping yang masih di tangan. Sehingga hidupnya sekarang dipenuhi kegelisahan. 

Demikian kisah disampaikan oleh Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf sesaat sebelum memulai qashidah pada acara yang bertajuk Jateng Bershalawat di Lapangan Simpang Lima Kota Semarang. 

Habib Syech menceritakan kisah tersebut sebagai bahan instrospeksi warga Indonesia. Indonesia dipenuhi kenikmatan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang begitu lengkap dalamnya. Sehingga dengan kelengkapannya yang sangat menakjubkan tersebut levelnya diibaratkan 99 keping emas. 

Hanya saja, dunia mana yang bisa tampil sempurna? Dunia penuh dengan kekurangan. Sebagian masyarakat Indonesia sekarang malah tergelincir sibuk meributkan satu keping emas yang hilang tapi lupa mensyukuri 99 keping emas yang sudah digenggam di tangan. Itu salah satu tanda orang tersebut tidak bisa mensyukuri anugerah Allah atas keindahan dan ketenteraman hidup di atas muka bumi Indonesia. Wallahu a’alam(Ahmad Mundzir)