::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

NU Jateng Sebut Bangsa Indonesia Sudah Dewasa

Kamis, 20 Juni 2019 06:00 Daerah

Bagikan

NU Jateng Sebut Bangsa Indonesia Sudah Dewasa
Ketua PWNU Jateng, HM Muzammil
Semarang, NU Online
Ketua Pengurus Wilayah Nahldatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, HM  Muzammil menyatakan bahwa bangsa Indonesia sudah dewasa. Terbukti sampai saat ini bisa mengatasi setiap masalahanya.

“Berbeda pandangan bisa diselesaikan melalui musayawarah. Maka dari itu di bulan Syawal kita harus kembali ke fitrah,” ungkapnya saat memberi sambutan di acara halal bi halal dan halaqah kebangsaan di Crown Hotel Semarang, Rabu (19/06) siang.

Fitrah bangsa Indonesia memiliki dasar Pancasila. Lima sila yang terdapat di dalamnya harus diaplikasikan oleh bangsa Indonesia. “Kemerdekaan bangsa Indonesia dicapai melalui berketuhanan yang maha esa, persatuan, hingga keadilan soisal seluruh rakyat Indonesia,” tuturnya.

Ia menyerukan kepada nahdliyin agar terus menyemai islam moderat di tengah masyarakat. Pasalnya, ajaran tersebutlah yang didakwahkan oleh Rasulullah SAW.

Dikatakan, ajaran aswaja juga mengikuti Rasulullah, utamanya perihal kepemimpinan. Seorang pemimpin di tuntut untuk bisa menjaga akhlaknya. “Rasulullah dipuji bukan karena jabatan, ilmu, dan harta, melainkan akhlaknya yang dijadikan contoh oleh kita hingga hari ini,” katanya.

Muzammil yang juga pernah aktif di PMII Jawa Tengah ini mengajak kepada seluruh elemen nahdliyin di Jateng menolak premanisme dalam bentuk apapun. “Setiap masalah dimusyawarahkan sesuai keadilan seluruh rakayat Indonesia bukan dengan kekerasan,” pungkasnya.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma'ruf Amin yang hadir dalam halaqah mengatakan, sistem ketatanegaraan khilafah yang sempat digulirkan untuk menggantikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejatinya tertolak secara sistemik, karena mencederai kesepakatan yang diambil oleh para pendiri negara Indonesia.

“Jadi di sini jangan dipaksakan untuk menggantikan NKRI, karya kesepakatan para pendiri negara ini di dalamnya juga terdapat para ulama waktu itu,” ujarnya.

Dikatakan, sistem khilafah itu bagus dan Islami, tetapi sistem lain yang ditetapkan di negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas muslim juga bagus dan Islami. "Sistem khilafah itu bagus dan Islami, akan tetapi tidak cocok di Indonesia," tandasnya.

Menurutnya, para ulama khususnya ulama NU senantiasa terpanggil untuk mempertahankan NKRI, karena hal ini merupakan amanat ulama yang harus dilaksanakan yang di kemudian hari secara simpel disebut dengan NKRI harga mati.

"Sikap ini, sering disalahpahami mereka dengan mengatakan NU menganggap khilafah itu jelek, maka tidak perlu diterapkan di Indonesia. Padahal tidak demikian, hanya saja adanya anggapan bahwa sistem khilafah itu baik maka harus diterapkan, ini tidak benar," tuturnya.

Halaqah Kebangsaan dan halal bi halal  dihadiri oleh Rais PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh, Wakil Sekretaris PWMU Wahyudi, Ketua PP Aswaja Center KH Misbahul Munir, Kapolda Jateng Irjen Pol Ryzko Amelda, dan Jubir BIN Wawan Purwanto.

Selanjutnya Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Ketua MUI KH Ahmad Darodji, Ketua FKUB Jawa Tengah H Taslim Sahlan, Pengasuh Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak KH Hanif Muslih, dan Pengasuh Pesantren Girikusumo Demak KH Munif Zuhri. (Samsul/Muiz