::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tantangan NU Belanda dan Solusinya

Senin, 24 Juni 2019 14:30 Internasional

Bagikan

Tantangan NU Belanda dan Solusinya
Jakarta, NU Online
Tak dapat dipungkiri, kemajuan organisasi ditopang kuat oleh para kadernya. Merekalah penggerak laju roda keberlangsungan berjalannya suatu perkumpulan yang memiliki tujuan bersama itu.

Kaderisasi menjadi hal yang sangat penting bagi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda. Persoalan ini menjadi problem internal yang perlu dibenahi.

“Persoalan yang dihadapi internal organisasi adalah kaderisasi. Terus terang, kekuatan PCINU Belanda secara umum ditopang oleh para mahasiwa yang datang dari Indonesia,” kata Muhammad Latif Fauzi, Ketua PCINU Belanda, kepada NU Online, pada Senin (24/6).

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa mahasiswa hanya bersifat temporal. Masalahnya, beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mengurangi jatah beasiswa ke kampus-kampus di Belanda.

Hal tersebut, menurutnya, sangat berpengaruh terhadap persediaan calon pengurus PCINU Belanda. Beruntungnya, masih ada beasiswa lain yang bisa diakses oleh Nahdliyin, seperti beasiswa dari Kementerian Agama (Kemenag).

"Kita berharap ada bibit-bibit unggul Nahdliyin dari peserta beasiswa tersebut," ujar peneliti doktoral di Fakultas Humanities, Universitas Leiden, Belanda itu.

Fauzi berharap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dapat melakukan penjaringan dan pembibitan Nahdliyin yang potensial guna menempuh studi di sana melalui berbagai jalur beasiswa.

“Idealnya, PBNU melakukan intervensi dengan menjaring santri, calon-calon mahasiswa potensial, dididik, disiapkan untuk menjadi penerima beasiswa tersebut,” katanya.

Gandeng Diaspora
Pria asal Sidoarjo, Jawa Timur itu juga mengungkapkan bahwa NU Belanda juga berupaya menarik diaspora Indonesia yang tinggal di Negeri Kincir Angin itu guna mengatasi persoalan kaderisasi.

“Alhamdulillah, di kepengurusan sekarang, ada beberapa mukimin yang lahir dan tumbuh besar di Belanda, masuk dalam jajaran pengurus. Keterlibatan mereka berarti sekali. Karena bisa menjaga keberlangsungan organisasi,” ungkapnya.

Di samping itu, persoalan eksternal yang saat ini tengah dihadapi adalah penguatan islamofobia. Tak perlu jauh ambil contoh, ia mengatakan bahwa konferensi internasional yang baru saja NU Belanda selenggarakan menuai protes dari sebagian kelompok masyarakat.

Menurutnya, hal tersebut disebabkan karena ketidakpahaman mereka terhadap NU. Mereka, lanjutnya, pasti kurang mengerti bagaimana NU dan ideologi apa yang kita bangun.

“Karena itu, masih diperlukan lebih banyak lagi dialog dan kegiatan bersama agar mereka mengerti apa yang kita lakukan,” kata pria kelahiran 27 November itu.

Hal tersebut juga sebagai langkah perwujudan atas harapan Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf terhadap seluruh PCINU agar memberikan sumbangsih atau kontribusi positif bagi negara yang ditinggalinya.

“Iya, Gus Yahya mengharap PCINU Belanda lebih terlibat (engaged) dalam kehidupan masyarakat Belanda. Kita tidak hanya mengurusi kebutuhan umat Islam saja. Tetapi kebutuhan semua manusia,” pungkasnya.

Fauzi terpilih sebagai Ketua PCINU Belanda masa khidmat 2019-2021. Ia dan pengurus lainnya secara resmi telah dilantik oleh Gus Yahya, Katib Aam PBNU. (Syakir NF/Musthofa Asrori)