::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Halal bi Halal HPN Luncurkan Dua Program Unggulan

Senin, 24 Juni 2019 16:20 Nasional

Bagikan

Halal bi Halal HPN Luncurkan Dua Program Unggulan
Halal bi halal HPN, Senin (24/6).
Jakarta, NU Online
Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) mengadakan halal bi halal dan peluncuran program unggulannya di Grand Syahid Jaya Hotel Jakarta Pusat, Senin (24/6). Acara ini dihadiri Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani, Dewan Pakar HPN H Rokhmin Dahuri, dan anggota HPN dari berbagai daerah, seperti dari Jakarta, Sumatera, dan Sulawesi.

Adapun peluncuran program unggulan yang dimaksud, ialah program E-dun, dan Propay (Program Budidaya Pepaya) dan HPN.

Ketua Umum HPN Abdul Kholik dalam sambutannya mengemukakan tentang awal mula didirikannya HPN. HPN, kata Kholik, didirikan oleh para kiai dan pengusaha pada 2011 memiliki kemandirian dan kesejahteraan ekonomi Nahdliyin. 

Menurutnya, melalui semangat tersebut, HPN berharap pengusaha Nahdliyin menjadi berdaya. HPN tidak membenarkan segala kegiatan yang merepotkan pengusaha Nahdliyin, seperti meminta sumbangan untuk menjalankan programnya. 

"Prinsip itu di HPN sangat kita junjung tinggi," ucapnya.

Namun demikian, ia menyadari bahwa untuk pengusaha Nahdliyin menjadi berdaya, maka membutuhkan waktu lama. Juga perlu ada dukungan dari pemerintah berupa kebijakan yang memberikan peluang ekonomi.

Menurutnya, meskipun HPN belum mampu menunjukkan hasil yang signifikan tentang pemberdayaan, tapi dirinya dan semua pengurus akan terus berusah agar program-programnya dapat menggeliat dan menjadi contoh bagaimana menjalankan program ekonomi yang baik.

"Saya mohon Teman-teman HPN, termasuk yang di PW (provinsi) dan PC (kabupaten/kota) untuk kita tidak kehilangan gairah untuk pemberdayaan ini," ucapnya.

Sementara Dewan Pakar HPN Rokhmin Dahuri berpesan kepada pengusaha Nahdliyin agar meningkatkan profesionalismenya, kerja keras, kerja cerdas, dan kerja sama supaya menjadi pengusaha yang berhasl. Menurutnya, dalam sebuah penelitian, salah satu syarat negara maju itu terpenuhinya tujuh persen pengusaha dalam suatu negara dari jumlah penduduk. Sementara sekarang ini, pengusaha di Indonesia sekitar dua persen.

"Jadi kalau pengusaha Nahdliyin sukses maka berarti kita membantu Indonesia menjadi negara yang adil, makmur, dan berdaulat," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan tentang pentingnya menjadi pengusaha karena dinyatakan sendiri oleh Nabi Muhammad dalam satu waktu. Menurutnya, menjadi pengusaha (pedagang) itu termasuk profesi yang baik. Nabi Muhammad pernah menjadi pengusaha sejak usianya kurang dari sepuluh tahun.

Ia menambahkan, sejumlah sahabat nabi yang sukses dalam harta, seperti Abu Bakar Siddiq, Utsman bin Affan, dan Abdurrahmam bin Auf. Namun, katanya, kekayaan mereka didistribusikan untuk kemajuan Islam dan membantu sesama. Bukan sebaliknya, kekayaannya untuk berbuat maksiat, seperti memakai narkoba dan berzina.

Namun, ia mengaku prihatin karena kini umat Islam tidak banyak yang berkeinginan untuk menjadi pengusaha. Di Cirebon sendiri, katanya menyebut daerah kelahirnya, tidak sedikit orang tua yang berpesan kepada anak-anaknya agar kelak menjadi pegawai kantoran atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). 

Persoalan lain yang dikemukakannya ialah, semangat berwirausaha dan kecanggihan teknologi yang sekarang menjauh dari Islam. Umat Islam, katanya menegaskan, harus menguasai dunia. "Ekonomi, bisnis, dan teknologi harus dikuasai umat Islam," jelasnya. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)