::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Penerapan Nilai-nilai Pancasila, Sudah Lampu Kuning

Senin, 24 Juni 2019 22:00 Nasional

Bagikan

Penerapan Nilai-nilai Pancasila, Sudah Lampu Kuning

Jakarta, NU Online
Patut disyukuri bahwa hampir 100 persen, atau tepatnya 95 persen  rakyat Indonesia tetap setuju Pancasila sebagai ideologi negara. Paling tidak, hal itu jika merujuk pada hasil penelitian Litbang Kompas, belum lama ini.

“Kita masih bersyukur (95 persen rakyat setuju ideologi Pancasila),” tukas Sekretaris Jenderal Kemenkominfo RI, Rosarita Niken Widiastuti dalam acara Nusantara Millenial Summit yang digelar  Pimpinan Pusat  IPPNU  di The Media Hotel and Tower, Jakarta, Sabtu (22/6).

Ucapan singkat Niken itu  merujuk pada survei Litbang Kompas untuk pertanyaan: setuju atau tidak Pancasila sebagai satu-satunya ideologi terbaik bangsa, yang jawabannya adalah sebanyak 95 persen menjawab bahwa Pancasila menjadi ideologi terbaik bagi bangsa Indonesia. Itu pertanyaan kedua.

Sedangkan pertanyaan pertama, apakah nilai-nilai Pancasila masih diterapkan dalam kehidupan masyarakat di dalam kehidupan sehari-hari? Ketiga, khawatir atau tidak dengan kelompok yang ingin mengganti Pancasila? Keempat, semakin kuat atau lemahkah nilai toleransi berpolitik di Indonesia? Dan kelima, penting atau tidakkah keberadaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)?

Untuk pertanyaan pertama, sebanyak 38,7 persen menjawab bahwa nilai-nilai Pancasila sudah ditinggalkan. Sementara 58,2 persen menjawab, masih dilakukan.

"Artinya, (jawaban) ini sesuatu yang sudah merupakan lampu kuning bagi kita," katanya.

Sementara jawaban pertanyaan ketiga, sebanyak 19 persen mengungkapkan tidak khawatir terhadap kelompok yang berkeinginan untuk mengganti ideologi Pancasila.

Artinya, menurut Niken, mereka yang menjawab itu bersikap cuek atau barangkali mereka adalah bagian dari gerakan kelompok yang ingin mengganti Pancasila.

"Namun sebanyak 54 persen menjawab khawatir dan 23 persen sangat khawatir," jelasnya.

Lalu pada pertanyaan keempat, sebanyak 51 persen menjawab bahwa nilai toleransi dalam berpolitik di Indonesia kian melemah. Untuk jawaban pertanyaan kelima adalah sebanyak 84 persen mengungkapkan bahwa keberadaan BPIP untuk membina masyarakat dalam memahami ideologi Pancasila, sangatlah penting.

Niken menambahkan, pertanyaan-pertanyaan serta jawaban itulah yang menjadi tolok ukur dari betapa sumber-sumber konflik kian hari semakin menjauhkan bangsa Indonesia dari perdamaian.

"Jadi, ini betul-betul harus menjadi perhatian dari semua unsur masyarakat," ungkapnya.

Nusantara Millenial Summit tersebut menghadirkan Deputi II Kementerian Pemuda dan Olahraga H Asrorun Niam Sholeh, Ketua Umum IPPNU Nurul Hidayatul Ummah, Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Aswandi Jailani, Ketua Umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Hafizh Syafaaturrahmah, dan Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) Husin Tasrik Makrup Nasution.

Selain itu, hadir juga sebagai pembicara para pemuda pegiat media sosial dari berbagai kalangan, seperti M Abdullah Syukri, Tina Talisa, Rana Anis Baswedan, dan Zediens. Mereka duduk satu forum dan berbicara tentang tema Saatnya Anak Muda Berani Mengkampanyekan Perdamaian.

Tak hanya itu, kegiatan tersebut juga mendatangkan Ari Kriting, Putri Salsa, Wirda Mansur, dan Chiki Fauzi guna membincangkan Saatnya Milenial Berkarya.

Sedangkan Niken sendiri bersama nara sumber Alissa Wahid, Addie MS, dan Ulil Abshar Abdalla mengupas  tema Kita Ingin Perdamaian: Mengkampanyekan Perdamaian Menurut Saya. (Aru Elgete/Aryudi AR).