::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Genealogi dan Polemik Raden Fatahillah (2)

Rabu, 26 Juni 2019 09:15 Fragmen

Bagikan

Genealogi dan Polemik Raden Fatahillah (2)
(Foto: @seputarkapal)
Genealogi dan Polemik Raden Fatahillah (2)
Oleh Rakhmad Zailani Kiki

Polemik tentang Fatahillah bermula dari dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) Dewan Perwakilan Kota Sementara Djakarta Raja pada Februari 1956 M. SK itu memutuskan bahwa hari lahir Jakarta adalah 22 Juni 1527 M.

Angka, bulan, dan tahun itu didapat dari hasil penelitian Prof Dr Mr Sukanto dalam Buku Dari Djakarta Ke Djajakarta yang ditulis pada 1954 M. Adalah Wali Kota Jakarta Sudiro, bertugas pada 1953-1960 M, yang menyetujui hasil penelitian Sukanto dan menetapkannya sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Sukanto sebenarnya hanya melengkapi penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Prof Dr PA Hussein Djajadiningrat. Hussein lah, dalam disertasinya yang berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten, yang pertama kali menetapkan 1527 M sebagai tahun kelahiran Jayakarta. Disertasi itu dipertahankan pada 1913 di Universiteit Leiden, Belanda.

Dalam disertasi itu, Hussein menyatakan bahwa Jayakarta berarti wlbrachte zege (kemenangan yang selesai), yaitu nama yang diberikan Fatahillah kepada Sunda Kelapa setelah berhasil direbut dari kerajaan Hindu, yaitu Kerajaan Pajajaran. Seperti diketahui, Fatahillah merupakan adik ipar Sultan Demak.

Berpegang pada penelitian Hussein itu, Sukanto memperkirakan, pertempuran antara Fatahillah dan De Sa terjadi pada Maret 1527 M. Jadi, nama Jayakarta pastilah muncul setelah itu. Ternyata, tak ada data kuat yang mendukung bahwa 22 Juni sebagai awal munculnya nama Jayakarta. Lantas Sukanto mengambil cara dengan menggunakan perhitungan Jawa yang biasa dipakai untuk keperluan masa panen.

Dalam perhitungan itu, satu tahun dibagi dalam 12 mangsa dan mangsa kesatu dimulai pada 22 Juni. Sukanto menulis, lebih kurang, "Mengingat mangsa kesatu jatuh pada Juni (bulan panen atau setelah panen), kemungkinan Jayakarta diberikan pada tanggal 1 mangsa kesatu, yaitu bulan Juni tanggal 22 tahun 1527 M. Harinya yang pasti tidak dapat kita temukan."

Hussein menolak teori itu. Menurut sarjana Islamologi ini, Fatahillah akan menggunakan hari raya Islam sebagai cantelan hari lahir Jayakarta, bukan berdasar penanggalan tradisi. Hari raya terdekat pada waktu itu adalah Maulid Nabi SAW, yaitu 17 Desember 1527. Perdebatan tidak hanya pada hari lahir Jakarta, tetapi juga pada sosok Fatahillah sebagai tokoh sentral dan ikon pada hari lahir tersebut.

Setelah dua profesor terkemuka ini berpolemik dan hari berganti hari, tahun berganti tahun, hari lahir kota Jakarta diterima begitu saja, begitu pula sosok Fatahillah. Upaya menggali kembali kebenaran tentang kapan hari lahir Jakarta makin tak tersentuh, termasuk berbagai penelitian yang harusnya terus dilakukan demi memenuhi kekosongan bukti sejarah kota ini.

Kesunyian sejarah pun pecah, dan polemik jilid dua kembali terjadi ketika sejarawan dan budayawan Betawi terkemuka, Ridwan Saidi, menggugat keberadaan Fatahillah di tanah Betawi.

Bang Ridwan menolak jika Fatahillah sebagai pahlawan bagi kota Jakarta, terlebih bagi kaum Betawi. Baginya, Fatahillah adalah perampok, penjahat. Fatahillah menyerang pelabuhan Kalapa untuk merampok dan membunuh pribumi yang merupakan proto kaum Betawi, bukan menyerang tentara Portugis yang dipimpin oleh Fransisco De Sa.

Ketika itu, pelabuhan Kalapa dikuasai Kerajaan Sunda Pajajaran dan orang-orang setempat yang merupakan proto Melayu Jawa yang kemudian menyebut diri dan disebut orang Betawi bertugas sebagai pelaksana yang mengurus pelabuhan tersebut.

Ketika Fatahillah menyerbu, ada sekira 3.000 rumah orang Betawi yang dibumihanguskan dan mereka beragama Islam. Penduduk Betawi ini kemudian berlarian ke bukit-bukit hidup bagai Tarzan.

Menurut Ridwan Saidi, Wak Item sebagai syahbandar pelabuhan Kalapa hanya punya pasukan pengikut sebanyak 20 orang. Dengan gigih, Wak Item dan pasukannya melawan pasukan Fatahillah, walau akhirnya semua tewas, mati syahid.

Wak Item tewas dan ditenggelamkan ke laut oleh pasukan Fatahillah, Sementara 20 orang pengikutnya semua juga dibunuh. Sedangkan armada Fransisco de Sa  tenggelam di perairan Ceylon.

Jadi yang menghadapi Pasukan Fatahillah yang berjumlah lebih dari 1.500 orang adalah Syahbandar Wak Item dengan pengawal-pengawalnya yang berjumlah 20 orang. Maka menurut Bang Ridwan Saidi,  perang Fatahillah ini adalah perang umat Islam versus umat Islam;  pembunuhan proto kaum Betawi di Kalapa. 

Ridwan Saidi tidak main-main dengan tuduhan ini. Ia menuangkan argumentasinya ini beserta sumber-sumbernya, yang saya tahu, minimal ke dalam tiga bukunya yang diterbitkan oleh Perkumpulan Renaissance Indonesia, yaitu Riwayat Tanjung Priok dan Tempat-Tempat Lama di Jakarta, Sejarah Jakarta dan Peradaban Melayu Betawi, dan Potret Budaya Manusia Betawi.

Pertanyaannya, benarkah tuduhan atau pendapat Ridwan Saidi itu? Prof Ahmad Mansur Suryanegara dalam Sarasehan Mengangkat Jejak Fatahillah di The Batavia Hotel yang diselenggarakan oleh UPT Kota Tua menyatakan bahwa pendapat seperti itu bisa benar karena memang penjajah saat itu, baik Portugis atau Belanda, dalam peperangan sering menerapkan politik adu domba dengan menggunakan penduduk setempat untuk menghadapi serangan dari musuhnya seperti perang Makassar.

Pada perang  Makassar, Belanda mengadu domba Sultan Hasanuddin dan Aru Palaka (Arung Palakka) sehingga korban peperangan adalah pribumi, bukan penjajah. Jadi, konfrontasi Fatahillah dengan Wak Item juga merupakan hasil adu domba, dalam hal ini dilakukan oleh penjajah Portugis.  

Akhir kalam, menurut saya, sejarah tentang penyerbuan Fatahillah ke pelabuhan Kalapa harus dipahami dengan dua pendapat yang kita bebas memilih, yaitu pertama, pendapat Prof Ahmad Mansur Suryanegara di atas; dan kedua, pendapat Ridwan Saidi yang saya kutip dari bukunya yang berjudul Sejarah Jakarta dan Peradaban Melayu Betawi.

Di dalam bukunya ini, Ridwan Saidi menulis: Seandaianya pun Fatahillah pahlawan, tetapi pahlawan lokal di Demak dan Cirebon. Ia memerangi orang-orang Betawi dan Pajajaran yang nota bene pemilik bumi Nusa Kalapa. Di tempat lain bisa saja dia dipahlawankan, tetapi di tempat dia melakukan penjarahan dan pelampiasan nafsu angkaranya tentu agresor namanya dalam istilah sekarang. (Selesai...)


Penulis adalah peneliti genealogi intelektual ulama Betawi. Ia kini diamanahi sebagai Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre (JIC). Ia juga dipercaya sebagai Sekretaris RMI (asosiasi pesantren) NU DKI Jakarta.