::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Halal bi Halal Momentum Bangun Konstruksi Sosial Kebangsaan

Rabu, 26 Juni 2019 15:25 Daerah

Bagikan

Halal bi Halal Momentum Bangun Konstruksi Sosial Kebangsaan
Halal bi halal Ansor dan Muslimat NU Kota Jayapura, Selasa (25/6).

Jember, NU Online
Disadari atau tidak, Pemilu serentak 2019 telah menimbulkan ‘kegalauan’ di tengah-tengah masyarakat akibat polarisasi dukungan politik. Bahkan untuk Pilpres, dampak sosialnya masih terasa hingga hari ini. Menjelang diumumkannya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa hasil Pilpres 2019, tensi politik kembali naik.

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kota Jayapura, Papua, Ahmad Muhazir, mengatakan puasa Ramadhan yang diikuti dengan Lebaran, seharusnya bisa menjadi penyejuk yang mampu meredam ‘bara’ yang ditingalkan Pemilu serentak itu.

"Sebab, Lebaran merupakan momentum saling bermaafan sekaligus merekatkan kerukunan dan persaudaraan di tengah-tengah masyarakat yang mungkin telah sedikit tercabik," katanya dihubungi dari Jember, Rabu (26/6) mengulang apa yang disampaikannya dalam Halal bi Halal GP Ansor dan Muslimat NU di Hotel Aston, Jayapura, Selasa (25/6).

Ia juga menegaskan halal bi halal hendaknya dijadikan momentum untuk membangun kembali konstruksi sosial kebangsaan. Mantan Ketua Umum PKC PMII Papua itu menambahkan, saat ini yang diperlukan bangsa Indonesia adalah soliditas elit-elit kepemimpinan nasional untuk bergerak menuju kejayaan di masa depan, lebih-lebih dalam menyongsong revolusi industri 4.0.

"Kita jangan terjebak dalam pola-pola pragmatis (politik) untuk kepentingan jangka pendek," jelasnya.

Muhazir juga berharap agar halal bi halal itu dijadikan sebagai wadah silaturahim dan konsolidasi organisasi dalam dakwah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di tanah Papua. Dikatakannya, topografi dan demografi Papua beda dengan daerah lain, sehigga perlu usaha yang telaten dan sungguh-sungguh agar bendera Aswaja semakin kokoh dan bahkan semakin tinggi berkibar.

"Makanya konsolidasi ini penting, khususnya antar lembaga dan Banom NU," jelasnya.

Lelaki asal Pati, Jawa Tengah itu menegaskan tekadnya untuk terus menebar Islam yang rahmatan lilalamin di tanah Papua. Islam yang didakwahkan NU dengan mengusung tema kesejukan, perdamaian, toleransi dan sebagainya  tentu mudah diterima oleh siapa pun.

"Kami akan terus memperluas spektrum gerakan Islam rahmatan lilalamin sebagai upaya merawat nilai-nilai lokal dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia," pungkasnya. (Aryudi AR/Kendi Setiawan)