::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menolak Provokasi Pascaputusan Mahkamah Konstitusi

Kamis, 27 Juni 2019 09:30 Opini

Bagikan

Menolak Provokasi Pascaputusan Mahkamah Konstitusi
foto: ilustrasi (jawapos.com)
Oleh: Moh Naenul Rizqoni

Menanti putusan sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres) di Mahkamah Konstitusi (MK)  27 Juni 2019 hari ini diharapkan masyarakat tetap menyambut baik serta jangan terlena dan terpancing dengan hal-hal yang bersifat provokatif yang nantinya merugikan diri sendiri juga keutuhan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Mari kita apresisasi atas kinerja Mahkamah Konstitusi dengan menghargai keputusan nanti yang sudah dikaji matang sesuai Undang-Undang.

Proklamator Bung Karno yang juga Presiden Republik Indonesia pertama telah mendengungkan dua ungkapan yang melegenda sampai saat sekarang ini yakni, 'Jas Merah' (Jangan sekali kali melupakan sejarah) dan juga mendengungkan ungkapan 'Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa jasa para pahlawannya'. 

Lantas sejarah apa yang tidak boleh kita lupakan sebagai generasi masa  sekarang? Dan apa yang dimaksud dengan jasa-jasa para pahlawan yang harus dihargai oleh generasi saat sekarang ini?. 

Bangsa ini telah menyelenggarakan perhelatan pesta demokrasi yang besar baik itu Pilpres maupun Pileg dan sekarang pesta itu kini telah usai, dan secara umum perhelatan itu berlangsung dengan baik, aman, lancar, serta kondusif, walau ada salah satu kubu yang mengajukan sengketa ke MK dengan dalih ketidakadilan atau kecurangan. 

Namun demikian semoga sampai pada saat pengumuman resmi dari Mahkamah Konstitusi (MK) nanti masyarakat menerima dengan baik dan tidak ada lagi perpecahan diantara sesama anak bangsa karena berbeda pilihan dan dukungan, saling ejek, saling caci, saling maki, dan menjadikan nilai pesta demokrasi itu jauh dari kata mempererat persatuan Indonesia.

Pemilu sejatinya hanyalah sebuah alat atau mekanisme yang digunakan untuk mencapai kedaulatan rakyat dengan menentukan pemimpin yang terbaik di antara putra putri terbaik ibu pertiwi untuk menahkodai  bangsa Indonesia lima tahun ke depan meneruskan nilai-nilai luhur yang telah diwarisi oleh para pendiri bangsa ini. Dan siapapun yang terpilih dialah yang memang dikehendaki oleh rakyat dan sepatutnya kita semua wajib saling mendukung demi kemajuan dan persatuan Indonesia. 

Lantas mengapa kita harus tetap bersatu?  Merenunglah dan ingat kembali sejarah kita darimana kita berasal, Tidak terlepas dari perjuangan para tokoh pahlawan bangsa.  

Kita ingat sosok KH Hasyim Asy'ari dalam perjuangannya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dengan gagasan besarnya yang dikenal dengan Resolusi Jihad. Di mana ketika tentara NICA (Netherland Indian Civil Administration) tidak lain adalah bentukan Belanda datang ke Indonesia dengan membonceng sekutunya yang di pimpin oleh Inggris pada tahun 22 oktober 1945. Kemudian di susul dengan sebuah peristiwa, di mana perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dan melawan tentara jepang yang langsung di pimpin oleh Bung Tomo pada Perang 10 Nopember 1945.

Kemudian kita ingat kembali sejarah dari pada Kongres Sumpah Pemuda yang sangat membakar semangat para Pemuda Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan. Di mana para pemuda indonesia bisa tergabung dalam Jong Java, Jong Sumatra Bond, Jong Celebes, dan lain-lain. Kongres Sumpah Pemuda di mana yang pertama ada di Batavia tahun 1926 menghasilkan kesepakatan bersama mengenai kegiatan pemuda pada segi sosial, ekonomi, dan budaya. Kemudian beberapa tahun setelahnya mereka pun membuat Kongres Sumpah Pemuda kedua yang diadakan di Batavia tgl 28 Oktober 1928 yang menelurkan 'Sumpah Pemuda'

Sejarah yang tidak kalah penting yang harus kita ingat adalah Proklamasi 17 Agustus 1945 yang menjadi tonggak awal berdirinya sebuah negara berdaulat yaitu 'Republik Indonesia'. Semua mata dunia tertuju pada kita pada hari itu dan menyaksikan serta melihat hasil akhir perjuangan sebuah bangsa selama lebih dari 350 tahun terjajah akhirnya mendapatkan hasil yaitu 'Kemerdekaan' dan diraih atas perjuangan sendiri dengan bermodalkan persatuan.

Melihat perjalanan sejarah yang cukup panjang ini setidaknya menjadi cambuk untuk kita sekalian dalam mengisi kemerdekaan, jangan hanya karena berbeda pilihan dan dukungan pada pesta demokrasi ini akhirnya persatuan kita jadi terancam, yang perlu kita sadari adalah kita tidak lagi terjajah melainkan yang menjadi lawan kita adalah diri kita sendiri. 

Tanpa persatuan yang digagas dan diperjuangkan oleh para pendahulu kita ataupun para pahlawan kita, mungkin kemerdekaan menjadi suatu ketidakmungkinan untuk bangsa kita. Begitu juga saat ini Indonesia yang adil, makmur, maju, dan sejahtera menjadi ketidakmungkinan jika kita terpecah belah hanya karena perbedaan pilihan dalam pesta demokrasi ini.

Oleh karena itu, mari kita dewasa dalam menyikapi hasil pemilu dan putusan Mahkamah Konstitusi ini, jangan karena belum di berikan kemenangan terus memprovokasi yang dapat menghancurkan dan memecah persatuan kita. Selanjutnya tokoh politik atau tokoh publik juga harus menjadi teladan yang terbaik kepada masyarakat dengan kedewasaan berdemokrasi secara konstitusional. Mari Rajut Kembali Persatuan usai putusan MK dan menolak provokasi yang memecah belah anak bangsa. Mari kita dukung pembangunan nasional agar Indonesia semakin maju dan bermartabat.


Penulis adalah pegiat Ansor, tinggal di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah