::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pesantren Sarana Tepat untuk Cegah Radikalisme

Kamis, 27 Juni 2019 13:00 Daerah

Bagikan

Pesantren Sarana Tepat untuk Cegah Radikalisme
Fathul Qodir (kanan)
Surabaya, NU Online
Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa gerakan yang mengatasnamakan suatu kelompok agama, khususnya kelompok Islam semakin massif terjadi. Jika masyarakat tidak segera sadar, hal ini bisa berbahaya dan menjadi salah satu penyebab perpecahan antar anak bangsa.

Hal ini sebagaimana ditulis oleh Ustadz Fathul Qodir, salah satu tim peneliti Aswaja NU Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di akun facebook miliknya pada Rabu (26/6).

Menurutnya, jika dahulu hal-hal yang sering diperdebatkan adalah masalah furu’ syariat seperti absah tidaknya amaliyah qunut, tahlilan, ziarah kubur, dan semacamnya. Namun pada saat ini hal itu sudah mulai bergeser menuju penyerangan terhadap kelompok lain yang tidak sejalan dan satu pemahaman dengan kelompok yang melakukan penyerangan itu.

“Di saat NU dan Muhammadiyah sudah mulai capek bertengkar, sekarang ini muncul kelompok dan aliran yang begitu banyak dan agresif menyerang kelompok lain yang tidak sefaham,” tulisnya.

Ia melanjutkan, kelompok-kelompok ini meliputi wahabi yang mengklaim bahwa ajarannya paling sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah sehingga menganggap melenceng dan sesat kelompok lain karena tidak satu pemahaman. 

“Ada (juga, red) Hizbut Tahrir yang keukeuh memperjuangkan berdirinya khilafah, sehingga sistem negara selain khilafah dianggap kufur dan taghut (setan). Meski sudah dibubarkan namun gerakannya saat ini semakin masif,” bebernya.

Selain itu, alumni Pesantren Lirboyo Kediri ini juga menyoroti fenomena menjamurnya organisasi umat Islam, namun tidak adanya persatuan antara satu sama lainnya. Menurutnya, hal ini diakibatkan oleh sifat yang berlebih-lebihan (ghulluw) dalam memahami dan menjalankan agama.

“Sikap ghulluw muncul lebih banyak dilatarbelakangi karena dangkal memahami ajaran agama, seakan cukup dengan membaca Al-Qur'an dan Hadits tanpa mempelajari perangkat ilmu lain seperti nahwu sharaf, fiqih, ushul fiqh, mantiq, dan balaghah,” tukasnya.

Dikatakan, seseorang sudah merasa paling sempurna dan murni Islamnya, bahkan tidak jarang langsung menjadi ustadz hanya bermodal pelatihan public speaking dan hanya hafal satu dua ayat maupun Hadits Nabi.

Di akhir tulisannya, ia memberikan solusi dari permasalahan tersebut. Ia menyatakan bahwa solusi paling utama untuk menghindari berpikir dan bersikap radikal dalam beragama adalah dengan terus berusaha untuk mengkaji dan memahami ajaran Islam secara mendalam dengan guru ataupun mentor yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas yang teruji dan bisa didapatkan di pesantren.

"Nah solusi itu ada di pesantren, khususnya pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama. Insyaallah pesantren NU tidak akan melahirkan mutakhorijin (lulusan, red) yang radikalis maupun teroris, dan pastinya juga tidak akan berkhianat terhadap bangsa ini,” tutupnya. (Hanan/Muiz)