::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tata Cara Pembuatan Ekstrak Gaharu dan Produksi Komponen Inokulan

Kamis, 27 Juni 2019 18:45 Diktis

Bagikan

Tata Cara Pembuatan Ekstrak Gaharu dan Produksi Komponen Inokulan
Kayu gaharu yang mulai diolah (foto: apamanfaat)
Pada riset yang dilakukan Megga Ratnasari Pikoli, Suhendra, Baihaki Ulma, dan Dinda Ikhwati dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2018, terungkap manfaat gaharu untuk pengayaan pengondisian pertumbuhan fungsi. Upaya itu dilakukan sebagai percobaan atas bahan kimiawi yang terdapat pada batang gaharu. 

Riset yang didukung Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI ini dijelaskan mengenai teknik pembuatan ekstrak gaharu. Pertama, batang gaharu dikeringkan, dicacah dengan blender, dan ditempatkan dalam labu erlenmeyer. Aquades ditambahkan sebanyak volume cacahan batang dan didiamkan selama tiga hari. 

Larutan yang telah berwarna kecoklatan dipisahkan dari ampas batang. Ekstrak-air batang gaharu selanjutnya ditambahkan ke dalam larutan potato dextrose broth (PDB) sebanyak 4% dan 8% (v/v) dan disterilisasi dengan autoklaf.


Selanjutnya, dilakukan produksi komponen inokulan yang terdiri dari isolat fungi dan ekstrak mikroalga. Yaitu setiap isolat yang telah dimurnikan pada medium potato dextrose agar diperbanyak pada medium potato dextrose broth yang diberi 4% (v/v) atau 8% (v/v) ekstrak-air batang gaharu sebagai enrichment. 

Kultur diinkubasi pada suhu ruang sambil digoyang-goyang selama tiga hari. Pertumbuhan fungi dalam kedua medium berbeda konsentrasi ekstrak tersebut diamati secara kualitatif. Sementara itu, ekstrak mikroalga disiapkan, seperti yang telah dijelaskan. 

Selanjutnya fungi dan ekstrak ini dijadikan sebagai inokulan tunggal atau dikombinasikan. Sementara dalam analisis kimia gubal, dari setiap perlakuan dicuplik dengan cara dikikis dari setiap titik injeksi, untuk kemudian dibawa ke laboratorium. 

Sampel gubal dihaluskan dengan blender secara kering, lalu direndam dalam pelarut hexane selama 24 jam. Kemudian larutan didekantasi ke dalam microtube dan dipindahkan sebanyak 300 ul dalam microvial

Macam kandungan di dalam ekstrak diketahui dari analisis ekstrak dengan GC-MS, mengikuti kondisi yang diberikan. Kemudian pada injeksi ikolun, batang utama pohon gaharu yang berusia minimal tujuh tahun dilubangi dengan bor kayu berdiameter 6 mm. 

Lingkar pohon adalah sekitar 60 cm, kedalaman lubang adalah 8 cm, dengan kemiringan 15°. Setiap lingkar pohon ditandai empat titik bor, yang berseling dengan lingkar di atas atau bawahnya. Jarak horizontal antar titik adalah 15 cm. 

Inokulan diinjeksi dengan volume 3 ml, kemudian ditutup dengan selotip plastik. Injeksi dilakukan pada 2 pohon, dengan 3 ulangan per formula per pohon.

Terkahir, pengamatan pembentukan gubal dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada bulan pertama dan kedua sejak diinjeksi. Kulit pohon di sekitar lubang injeksi dikupas sedalam 2 cm, dan gubal yang terbentuk diamati secara visual dengan melihat pembentukan warna coklat di sekitar lubang injeksi, diukur panjang vertikal dan horizontalnya, dan didokumentasi dengan kamera. Setelah selesai pengamatan pada bulan pertama, lubang dan kulit batang dibiarkan terbuka.

Pada bulan kedua, gubal kembali diamati, diukur dan didokumentasikan. Setelah itu, sampel gubal dikupas sedalam ±2-3 mm dan dikering-anginkan. Gubal kering dibakar dengan pemantik api, dan asap yang keluar setelahnya dibaui. Lima orang responden yang sebagian besar belum pernah mencium wangi gubal menilai wangi dari sampel gubal lalu memberi skor, yaitu 0= tidak wangi, 1= wangi halus, 2= wangi sama dengan gaharu standar, 3= wangi lebih kuat, 4= wangi lebih kuat lagi. Standar wangi gubal yang digunakan berasal dari Papua. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)

Baca tulisan lainnya terkait hasil penelitian Kemenag lainnya DI SINI.