::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kita Semua adalah Pemenang dalam Pesta Demokrasi

Sabtu, 29 Juni 2019 21:30 Risalah Redaksi

Bagikan

Kita Semua adalah Pemenang dalam Pesta Demokrasi
Mahkamah Konstitusi telah memutuskan bahwa gugatan pasangan 02 tidak dikabulkan. Dengan demikian, sudah terdapat kepastian hukum bahwa pasangan 01 menjadi pemenang dalam pemilu presiden 2019. Inilah upaya terakhir dalam sengketa pemilu karena hasil keputusan MK mengikat dan tidak ada lagi upaya hukum di atasnya. Tahapan selanjutnya seperti penetapan sampai dengan pelantikan bisa dijalankan dengan kepastian. Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai pasangan terpilih dapat segera mulai merancang program pemerintahannya sesuai dengan janji kampanyenya. Selanjutnya, ketika sudah dilantik, bisa langsung tancap gas.

Kini tidak ada lagi pasangan 01 atau 02. Semuanya kembali ke 00. Rakyat Indonesia kembali bersatu untuk membangun bangsa ini. Sesungguhnya, proses pemilihan pemimpin nasional ini adalah bagian dari pembangunan ini. Jangan sampai proses ini merusak tujuan yang sebenarnya dengan terus memelihara pertentangan di antara pihak-pihak yang terlibat dalam kontestasi pilpres 2019. 

Kampanye pemilu presiden 2019 yang berlangsung selama 10 bulan cukup panas dan melelahkan. Perang kata-kata dan pernyataan membuat panas masing-masing pendukung. Hoaks bertebaran di media sosial. Kondisi ini mengakibatkan hubungan persaudaraan atau pertemanan yang sebelumnya akrab menjadi renggang karena perbedaan pilihan politik. Semuanya harus kembali sebagaimana semula. Politik tidak boleh memecah belah dan melupakan hal-hal yang lebih penting seperti kemanusiaan dan upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat. Politik hanyalah cara bagaimana kita mengelola berbagai kepentingan bersama. Politik adalah menegosiasikan berbagai kepentingan untuk mencapai konsensus. Bukan untuk menang-menangan. 

Pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin bukan hanya pemimpin bagi 55 persen rakyat yang memilihnya, tetapi pemimpin bagi seluruh rakyat. Pemilu merupakan proses untuk memilih pemimpin terbaik di antara beberapa calon. Dengan demikian, pasti hanya satu yang akhirnya terpilih. Masing-masing pendukung tentu merasa bahwa calon yang dipilihnya merupakan orang yang terbaik. Pasti ada kekecewaan karena calon yang diidealkan menjadi pemimpin dan menjalankan visi misi kepemimpinannya ternyata gagal. Di sinilah perlunya sikap legowo dari kontestan dan para pendukungnya bahwa mereka ternyata mendapatkan suara lebih sedikit sehingga calon lain yang berhak menjadi presiden dan wakil presiden. 

Tugas pertama pemimpin terpilih adalah memastikan adanya rekonsiliasi dari pihak-pihak yang berkompetisi dalam pilpres. Dalam konteks ini, maka pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto merupakan hal yang penting karena hal ini menyimbolkan sikap kenegarawanan mereka dengan menerima apa pun hasil keputusan MK. Pertamuan ini diharapkan dapat menurunkan tensi di kalangan para pendukung masing-masing pihak. 

Ada banyak hal yang perlu diperbaiki dalam pemilu selanjutnya. Ratusan KPPS yang meninggal merupakan tragedi buruk yang baru pertama kali terjadi dalam proses penghitungan suara yang berlangsung secara maraton akibat banyaknya kertas suara yang harus dihitung.  Sejumlah persoalan lain yang terjadi pada pemilu-pemilu sebelumnya juga belum terselesaikan.

Kini saatnya melihat ke depan. Ada banyak persoalan bangsa yang menunggu penanganan serius dan kerja bersama. Presiden terpilih akan memimpin orkestra kerja-kerja bersama tersebut. Ada banyak janji yang disampaikan kepada rakyat selama masa kampanye. Jangan sampai janji-janji tersebut sekedar janji kosong sebagaimana sering dialamatkan kepada para politisi yang banyak berjanji kepada rakyat ketika kampanye tetapi lupa akan janjinya setelah terpilih. 

Indonesia sesungguhnya adalah negara yang kaya dalam berbagai hal. Banyak kekayaan alam yang bisa diolah untuk kesejahteraan rakyat dan bangsa. Ada banyak ahli yang kompeten yang siap melakukan berbagai peran dan fungsi. Jangan sampai potensi tersebut salah kelola yang akhirnya malah menimbulkan kemudharatan, bukan kemaslahatan. Di beberapa negara, kekayaan alam bahkan menimbulkan konflik antar sesame anak bangsa. Kekayaan hanya dimiliki oleh sekelompok kecil elit sementara rakyat jelata dalam kondisi kemiskinan yang akut. Jangan sampai hal ini terjadi di Indonesia. Sumber daya manusia yang kompeten, jika tidak dikelola dengan baik, akan pindah ke negara lain yang mampu memberikan kesejahteraan dan peluang karir yang lebih menjanjikan. 

Pada periode pertama kepemimpinannya, Jokowi memiliki visi besar dalam pembangunan infrastruktur. Dan ini diakui cukup membantu aksesibilitas masyarakat. Tetapi ada keluhan dalam sektor lain seperti bidang penelitian yang kurang mendapatkan perhatian, masalah kualitas pendidikan, korupsi, radikalisme, dan lainnya. Hal-hal tersebut juga membutuhkan perhatian dan penanganan yang baik. 

Menjadi oposisi juga bagian dari sistem untuk mengontrol jalannya pemerintahan. Ada adagium bahwa power tend to corrupt. Yaitu, kekuasaan rawan disalahgunakan jika tidak ada pengawasan. Di sinilah peran pihak oposisi untuk melakukan pengawasan berbagai kebijakan pemerintah yang mungkin saja kurang tepat atau tidak berjalan dengan baik.  Menjadi oposisi yang baik bukan berarti mengkritisi setiap kebijakan pemerintah, tetapi seharusnya memberikan apresiasi atas keberhasilan yang dcapai. Toh semuanya untuk rakyat. Oposisi, tidak berarti menghalangi kerja-kerja pemerintah agar kinerjanya buruk sehingga pada pemilu selanjutnya dapat dikalahkan.  

Pemilu sudah usai. Segala perbedaan pendapat terkait pilihan pemilu sudah waktunya diakhiri. Kini saatnya menatap Indonesia ke depan dengan sedemikian peluang dan tantangan yang harus dihadapinya daripada terus-terusan memelihara permusuhan dan perbedaan pendapat yang tidak produktif. Semoga pemimpin terpilih dapat menjalankan amanah yang diberikan dengan baik. Amin. (Achmad Mukafi Niam)