::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ansor Telah Ingatkan Ancaman bagi Kesatuan Bangsa

Senin, 08 Juli 2019 08:30 Nasional

Bagikan

Ansor Telah Ingatkan Ancaman bagi Kesatuan Bangsa
Jakarta, NU Online
Radikalisme di Indonesia sudah menjalar pada semua sektor masyarakat mulai dari pendidikan, pemerintahan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta dan lain-lain. Sehingga negara sudah seharusnya mendukung keberadaan organisasi kemasyarakatan seperti NU untuk mengatasi radikalisme. 

Pendapat ini disampaikan Ade Armando selaku dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Indonesia pada talkshow Tantangan Radikalisme pasca Pemilu, di Aula Kemenag Jakbar, Ahad (7/7).

"NU dan Gerakan Pemuda Ansor sudah berada di garis terdepan menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman radikalisme. Sudah seharusnya negara mendukung kiprah NU tersebut dengan fasilitas dan instrumen yang dimiliki," urainya. 

Ade Armando juga mengajak kalangan nasionalis dan non Muslim juga membantu NU dan GP Ansor dalam mengatasi radikalisme. "Jangan biarkan NU sendirian hadang radikalisme," tandasnya. 

Sementara itu Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Taufik Damas menjelaskan akar radikalisme yaitu minimnya pengetahuan sebagian umat Islam terhadap agamanya.

"Ada kelompok radikal yang mempunyai jargon kembali ke Al-Qur'an dan hadits tapi bahasa Arab, nahwu, sharaf, fiqh dan ushul fiqh saja tidak paham, sehingga mereka menafsirkan Al-Qur'an seenaknya saja untuk merebut kekuasaan," paparnya.

KH Taufik menjelaskan bahwa warga NU bisa beragama dengan lebih rileks karena mempelajari ilmu tasawuf yang lebih menekankan pada upaya koreksi diri bukan menyalahkan atau mengafirkan orang lain.

Dalam sambutannya, Ketua PC GP Ansor Jakarta Barat Alfanny menegaskan komitmen untuk memberantas radikalisme.

"Tanpa dibantu negara dan siapapun, NU sudah sejak lahirnya bergerak membasmi radikalisme Wahabi yang hampir saja menggusur makam Nabi Muhammad SAW di Saudi," katanya. 

Alfanny juga menyatakan bahwa korban radikalisme bukan hanya umat minoritas  tapi juga umat Islam. Hal tersebut terbukti dengan sejumlah masjid yang dibom di Timur Tengah dan Indonesia pada saat shalat Jumat.
Oleh karena itu GP Ansor berharap negara dan kalangan nasionalis bersinergi mendukung kiprah NU mengatasi radikalisme.

"Jangan salahkan NU dan GP Ansor bila suatu saat NKRI menjadi negara khilafah. Kami sudah ingatkan jauh-jauh hari," tutup Alfanny. 

Pada acara talkshow yang sekaligus halal bi halal dan Rapat kerja Cabang GP Ansor Jakarta Barat tersebut juga dihadiri Sekretaris Pimpinan Wilayah GP Ansor DKI Jakarta Dendy  Finsa. Termasuk Pimpinan Cabang, Pimpinan Anak Cabang dan Ranting GP Ansor se-Jakbar.

Terlihat pula puluhan Barisan Ansor Serbaguna (Banser), serta tamu undangan dari pemuda Katolik, Pemuda Gereja GKPB Slipi dan lain-lain. (Nahraji/Ibnu Nawawi)