::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

TWEET TASAWUF

Pengorbanan Seorang Ibu Hingga ke Akhirat, Pengorbananmu?

Rabu, 10 Juli 2019 16:00 Nasional

Bagikan

Pengorbanan Seorang Ibu Hingga ke Akhirat, Pengorbananmu?
Ilustrasi (Dok. Salindah)
Jakarta, NU Online
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Seperti itulah Al-Qur’an menjelaskan dalam Surat Luqman ayat 14 tentang kewajiban seorang anak berbuat baik kepada bapak dan ibunya. Islam mengajarkan bahwa ada surga di bawah telapak kaki ibu. Hal itu memberikan pelajaran kepada setiap anak bahwa, bahkan di tempat paling bawah pun, masih ada kebaikan-kebaikan melimpah yang menyertai seorang ibu.

Hal ini ditegaskan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim. Ia menegaskan surga di bawah telapak kaki ibu tersebut nampak setiap seorang anak bertemu dengan ibunya.

“Setiap bertemu ibu, ada surga di bawah telapak kakinya,” tutur Kiai Luqman dikutip NU Online, Rabu (10/7) lewat twitternya.

Direktur Sufi Center ini mengungkapkan, jika setiap bertemu sang ibu lalu seorang anak mencium kakinya, maka surga dan segala isinya dihibahkan kepadanya.

“Seorang ibunda jika dicium kedua telapak kakinya oleh anaknya, surga dan isinya dihibahkan pada anandanya,” jelas Kiai Luqman.

“Arasy seketika terbuka, bermunajatlah kala itu. Pengorbanan ibu sampai ke akhirat. Pengorbananmu?” sambungnya.

Terkait akhirat, surag, dan neraka, lebih jauh Kiai Luqman mengungkapkan bahwa di surga tidak ada iri dengki, dendam, cinta duniawi, sombong, pamer, eksis, merasa paling, apalagi caci maki dan fitnah.

Karena menurutnya, sifat-sifat tidak terpuji tersebut hanya ada di neraka. “Itu semua hanya ada di neraka,” ujar Penulis buku Jalan Hakikat ini.

Ia menerangkan, Syekh Zarruq, wali besar dari negeri Maroko pernah mengatakan, "Awal aku memasuki dunia Sufi, yang kuingat adalah perkataan Imam Ahmad bin Hambal, "Hati-hati dengan perjalananmu, Nabi Adam yang sudah di surga saja bisa kepleset ke dunia."

Adapun ketika manusia merasa benar, ia menyatakan bahwa tidak ada alasan di neraka bagi seseorang yang merasa benar dengan argumen yang benar, asal tidak didasari kesombongan, gengsi, takjub diri, dengki, dan tidak pula dusta di antara manusia.

“Jangan melihat surga dan neraka, itu nanti. Lihat saja saat ini. Karena surga dan neraka sudah ada,” ucap Kiai Luqman.

Menurutnya, hakikat neraka itu siksa. Hakikat siksa itu hijab antara diri manusia dengan Allah Ta'ala. “Kalian ukur sendiri-sendiri, diri kita masing-masing. Apakah saat ini kita sedang terhijab atau sedang terbuka Tirai-Nya,” tandas Kiai Luqman. (Fathoni)