::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kecintaan Nabi Muhammad pada Cucu Perempuannya, Umamah

Kamis, 11 Juli 2019 13:00 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Kecintaan Nabi Muhammad pada Cucu Perempuannya, Umamah
“Rasulullah saw. pernah shalat dengan Umamah binti Amr bin al-Ash di pundaknya. Beliau meletakkan ketika rukuk dan mengangkatnya kembali ketika beliau berdiri,” kata Abdullah bin Harits bin Naufal dan Abu Qatadah dalam sebuah riwayat.

Nabi Muhammad begitu sayang kepada cucu-cucunya. Beliau kerap kali membawa mereka di atas punggungnya. Memeluk, membelai, dan mencium mereka dengan penuh kasih sayang. Bahkan, Nabi Muhammad beberapa kali memosisikan dirinya ‘seperti kuda’, sementara cucu-cucunya naik di atas punggungnya. Kasih sayang dan perlakuan seperti itu tidak hanya ditujukan Nabi Muhammad kepada Hasan dan Husain, tapi juga dengan cucu perempuannya, Umamah. 

Umamah adalah anak dari Sayyidah Zainab, putri sulung Nabi Muhammad dengan Sayyidah Khadijah. Sementara bapaknya adalah Amr bin al-Ash bin Rabi’, biasanya dikenal Abul Ash bin Rabi’. Seorang yang masih kerabat dengan Nabi Muhammad. Abul Ash adalah anak dari Halah binti Khuwailid, saudara perempuan dari Sayyidah Khadijah binti Khuwailid.

Sebagaimana riwayat Abdullah bin Harits bin Naufal dan Abu Qatadah, Nabi Muhammad juga pernah mengajak Umamah ketika sedang shalat; beliau menggendong Umamah di pundaknya, meletakkannya ketika rukuk, dan mengangkatnya lagi saat berdiri. Persis ketika Nabi Muhammad mengajak Hasan dan Husain ketika shalat.

Tidak hanya itu, kecintaan Nabi Muhammad kepada cucu perempuannya itu juga terlihat ketika beliau memberikan hadiah kepada Umamah. Dalam buku Purnama Madinah: 600 Sahabat Wanita Rasulullah saw. yang Menyemarakkan Kota Nabi (Ibn Sa’ad, 1997) dikisahkan, suatu ketika Negus memberikan perhiasan kepada Nabi Muhammad, termasuk sebuah cincin emas. Setelah menerima hadiah itu, Nabi Muhammad kemudian memberikannya kepada cucunya, Umamah.

“Hiasilah dirimu dengan ini, gadis kecil,” kata Nabi Muhammad kepada Umamah.

Pada kesempatan lain, sebagaimana riwayat Ali bin Zaid bon Jid’an, Nabi Muhammad pulang ke rumah dengan membawa sebuah kalung batu onyx. Kepada para anak dan istrinya, Nabi mengatakan bahwa dirinya akan memberikan kalung batu onyx tersebut kepada orang yang paling dicintainya. 

Mendengar hal itu, para keluarga Nabi semula menyangka bahwa kalung tersebut akan diberikan kepada Sayyidah Aisyah. Namun dugaan mereka meleset. Nabi Muhammad malah memanggil Umamah dan meletakkan kalung itu di tangannya, bukan Sayyidah Aisyah. Pada saat itu, Nabi yang melihat ada kotoran di mata Umamah langsung membersihkannya dengan tangannya.

Sikap Nabi Muhammad terhadap Umamah dan cucu-cucunya yang lain tentu ‘aneh’ bagi masyarakat Makkah pada saat itu. Mengapa? Karena pada saat itu hubungan seorang kakek dengan cucunya sangat lah kaku dan keras, tidak luwes sebagai sikap yang ditunjukkan Nabi Muhammad; mencium, membelai, bermain-main bersama dengan cucu-cucunya.

Umamah adalah anak kedua –anak terakhir- dari Abul Ash dan Sayyidah Zainab. Kakaknya, Ali meninggal saat masih kecil. Nantinya, Umamah dipersunting oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Sayyidah Fathimah az-Zahra. (A Muchlishon Rochmat)