::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Akademisi IPB Heran Indonesia Belum Produksi Gelatin

Kamis, 11 Juli 2019 20:00 Nasional

Bagikan

Akademisi IPB Heran Indonesia Belum Produksi Gelatin
Jakarta, NU Online
Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Akan tetapi, keadaan ini tidak serta merta menjamin penduduknya terbebas dari babi karena hingga kini, gelatin yang ada di Indonesia merupakan impor. Padahal hampir 50 persen, produksi gelatin di dunia memakai bahan dasarnya dari kulit babi.

Lalu, kenapa hingga kini Indonesia belum kunjung memproduksi gelatin?

Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) Fahim Muhammad Taqi, saat ditemui NU Online usai mengikuti Bahtsul Masail di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (11/7), menyatakan bahwa Indonesia sangat layak jika mendapat dukungan dari pemerintah untuk memproduksi gelatin. Karena secara teknologi, kata Taki, proses produksinya tidak terlalu sulit.

Gelatin merupakan produk turunan dari kolegan, protein hewani pembangun jaringan kulit dan tulang. Hewan utama sebagai bahan dasar gelatin adalah babi, sapi, ikan, dan ayam.

Namun, ia sendiri mengaku heran kenapa belum ada pengusaha Indonesia yang melirik untuk memproduksinya. Padahal manfaat gelatin sangat luas, seperti untuk bidang medis dan farmasi, makanan dan minuman, serta untuk kebutuhan sehari-sehari seperti sabun atau shampo.

"Pertama, mungkin faktor utama masalah kepercayaan, seperti industri pangan dari sisi kualitas belum ada kepercayaan. Kedua, mungkin ada faktor non-teknis, ada hambatan-hambatan bisa dari importir, bisa juga hambatan dari pemerintah yang regulasinya gak mendukung industri di dalam negeri," paparnya.

Terkait regulasi yang ada, ia mencontohkan bagaimana seorang temannya dalam menjalankan industri hedrokoloid dengan bahan dasar pat yang terbuat dari singkong atau ubii. 

Menurutnya, temannya ini memproduksi turunan dari pati asli tidak diproduksi di Indonesia. Alasannya, karena biaya produksi di Indonesia mahal.

"Pemerintah kan kalau kita bikin industri kan gak semudah itu. Kadang-kadang ada hambatan harus ada pelicin, minta bagian. Jadi ekonomi kita itu masih banyak hal-hal yang sepertinya membuat pengusaha gak memproduksi," ucapnya.

Hal itu menurutnya, berbeda dengan pemerintah China yang dinilainya memproteksi industri para pengusahanya. Dan mendorong agar industrinya maju, sehingga bisa ekspor.

Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) mendiskusikan konsep gelatin halal pada hari ini, Kamis (11/7) siang di aula PBNU Lantai 5, Jakarta Pusat. LBM PBNU membahas secara tuntas konsep gelatin halal dari kajian hukum Islam. (Husni SahalAbdullah Alawi)